JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Ja'far menilai, lembaga survei mulai kehilangan independensinya. Lembaga survei lebih mengedepankan kepentingan pihak pemesan.
"Harus diakui belakangan ini lembaga survei sudah mulai kehilangan independensi. Bahkan, sudah banyak survei berdasarkan orderan. Mereka lebih mengedepankan kepentingan bohir-nya," kata Marwan di Jakarta, Senin (31/10/2011).
Kondisi itulah yang membuat lembaga survei kehilangan obyektivitas. Validitas hasil survei juga diragukan.
Survei dilakukan hanya berdasarkan pendapat responden, yang tentu cenderung lebih subyektif. Seperti survei terakhir yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia tentang politisi muda. Hasil survei menyatakan, belum ada politisi muda yang pantas tampil sebagai presiden. Selain itu, citra politisi muda juga buruk karena banyak yang tersangkut masalah korupsi.
Menurut Marwan, jawaban para responden lebih didasari pada pikiran subyektif mereka. Para responden menjawab bahwa citra politisi muda buruk karena selama ini mereka dijejali dengan pemberitaan tentang sejumlah politisi muda yang tersangkut korupsi, seperti M Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.
Padahal, pada kenyataannya tidak semua politisi muda bermasalah dengan hukum. Masih banyak politisi muda yang bekerja untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
http://nasional.kompas.com/read/2011/10/31/23391391/Lembaga.Survei.Kehilangan.Independensi
Tampilkan postingan dengan label kompas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 November 2011
kompas-Sedikitnya 1,4 Kuintal Paku Ditebar
JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam tiga bulan terakhir, sedikitnya 1,4 kuintal paku bertebaran di sejumlah ruas jalan di Jakarta. Paku-paku yang sengaja ditebarkan di jalanan itu berhasil dikumpulkan delapan sukarelawan penyapu ranjau paku dari berbagai kalangan yang peduli terhadap keselamatan warga.
Sukarelawan yang tergabung dalam Saber Community, yang berdiri sejak 5 Agustus 2011, itu setidaknya bisa menyelamatkan 320.000 orang. Jumlah itu diasumsikan, terdapat rata-rata 80 paku berbagai ukuran dalam seperempat kilogram paku. Jika satu paku mengenai satu kendaraan, maka ratusan ribu orang itu bisa terhindar dari bahaya dan kerugian.
Saber Community (Saber singkatan dari Sapu Bersih Ranjau Paku) mendapatkan bantuan dan penghargaan dari Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, Senin (31/10/2011).
”Ada jaket, masker, senter, dan sarung tangan yang diberikan untuk operasi ranjau paku,” ujar Abdul Rohim (42), sukarelawan Saber Community.
Di rumahnya, yang juga markas sukarelawan, di Pedongkelan, RT 10 RW 13, Cengkareng Timur, Rohim menuturkan, dia sudah dua tahun terakhir membersihkan jalanan dari ranjau paku.
”Awalnya saya sering lihat banyak paku di jalan waktu berangkat atau pulang kerja. Iseng saja saya punguti. Makin hari makin banyak dan ada terus. Sepertinya sudah tidak wajar. Mobil bos saya sudah beberapa kali kena paku itu,” ujar Rohim, yang bekerja sebagai sopir.
Dari memunguti paku dengan tangan, dia lalu menggunakan magnet tempelan kulkas. Kini ada magnet bulat besar pemberian sopir bus kopaja dan magnet persegi panjang untuk membersihkan paku dari jalanan. Sudah ada delapan anggota tetap dan 15 simpatisan yang turut dalam kegiatan Saber Community.
Penuh risiko
Mereka menyapu ranjau paku di sekitar Jalan Daan Mogot, Roxy, Cideng, depan Istana Merdeka, Harmoni, Senen, dan Cempaka Putih. Selepas subuh, Rohim dan kawan-kawan menyapu ranjau paku hingga pukul 07.00. Malam hari, mereka bergerak pukul 19.00-24.00. ”Tidak sampai sebulan, kami sudah dapat 34 kilogram paku,” ujar Rohim.
Kegiatan itu bukan tanpa risiko. Ada ancaman yang mengintai. Saat memunguti paku, pernah ada pengendara yang mau menendang Rohim. Ada juga orang bersepeda motor yang tiba-tiba sengaja hendak menabrak dia. Yang tidak wajar, menurut Rohim, sepanjang Grogol-Harmoni yang cuma dua kilometer terdapat 25 jasa tambal ban.
”Saya tidak takut. Kasihan, kan, orang kalau malam-malam atau hujan ban kendaraannya kempes kena paku. Sering kali mereka harus ganti ban dalam yang harganya mahal,” kata Rohim.
Wali Kota Jakarta Barat menyatakan dukungannya bagi Saber Community dan menyampaikan penghargaan atas jerih payah mereka. ”Saya pun heran bisa sampai ada paku sebanyak itu di jalan,” kata Burhanuddin. (FRO)
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/11/01/10494481/Sedikitnya.1.4.Kuintal.Paku.Ditebar
Sukarelawan yang tergabung dalam Saber Community, yang berdiri sejak 5 Agustus 2011, itu setidaknya bisa menyelamatkan 320.000 orang. Jumlah itu diasumsikan, terdapat rata-rata 80 paku berbagai ukuran dalam seperempat kilogram paku. Jika satu paku mengenai satu kendaraan, maka ratusan ribu orang itu bisa terhindar dari bahaya dan kerugian.
Saber Community (Saber singkatan dari Sapu Bersih Ranjau Paku) mendapatkan bantuan dan penghargaan dari Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, Senin (31/10/2011).
”Ada jaket, masker, senter, dan sarung tangan yang diberikan untuk operasi ranjau paku,” ujar Abdul Rohim (42), sukarelawan Saber Community.
Di rumahnya, yang juga markas sukarelawan, di Pedongkelan, RT 10 RW 13, Cengkareng Timur, Rohim menuturkan, dia sudah dua tahun terakhir membersihkan jalanan dari ranjau paku.
”Awalnya saya sering lihat banyak paku di jalan waktu berangkat atau pulang kerja. Iseng saja saya punguti. Makin hari makin banyak dan ada terus. Sepertinya sudah tidak wajar. Mobil bos saya sudah beberapa kali kena paku itu,” ujar Rohim, yang bekerja sebagai sopir.
Dari memunguti paku dengan tangan, dia lalu menggunakan magnet tempelan kulkas. Kini ada magnet bulat besar pemberian sopir bus kopaja dan magnet persegi panjang untuk membersihkan paku dari jalanan. Sudah ada delapan anggota tetap dan 15 simpatisan yang turut dalam kegiatan Saber Community.
Penuh risiko
Mereka menyapu ranjau paku di sekitar Jalan Daan Mogot, Roxy, Cideng, depan Istana Merdeka, Harmoni, Senen, dan Cempaka Putih. Selepas subuh, Rohim dan kawan-kawan menyapu ranjau paku hingga pukul 07.00. Malam hari, mereka bergerak pukul 19.00-24.00. ”Tidak sampai sebulan, kami sudah dapat 34 kilogram paku,” ujar Rohim.
Kegiatan itu bukan tanpa risiko. Ada ancaman yang mengintai. Saat memunguti paku, pernah ada pengendara yang mau menendang Rohim. Ada juga orang bersepeda motor yang tiba-tiba sengaja hendak menabrak dia. Yang tidak wajar, menurut Rohim, sepanjang Grogol-Harmoni yang cuma dua kilometer terdapat 25 jasa tambal ban.
”Saya tidak takut. Kasihan, kan, orang kalau malam-malam atau hujan ban kendaraannya kempes kena paku. Sering kali mereka harus ganti ban dalam yang harganya mahal,” kata Rohim.
Wali Kota Jakarta Barat menyatakan dukungannya bagi Saber Community dan menyampaikan penghargaan atas jerih payah mereka. ”Saya pun heran bisa sampai ada paku sebanyak itu di jalan,” kata Burhanuddin. (FRO)
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/11/01/10494481/Sedikitnya.1.4.Kuintal.Paku.Ditebar
kompas-Kemennakertrans Buka 7.000 Lowongan TKI di Arab
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemennakertrans) membuka peluang 7.000 lowongan kerja baru bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) formal untuk bekerja di Arab Saudi. Lowongan pekerjaan di berbagai sektor yang tersedia ini merupakan langkah antisipasi dan solusi dalam penerapan moratorium penempatan TKI sektor pekerja domestik ke Arab Saudi.
Adapun lowongan kerja yang tersedia antara lain sopir, tenaga pemasaran dan pramuniaga, kasir, pekerja pabrik, pekerja pertanian, pekerja perkebunan, petugas kebersihan, dan perawat. Alasan pemerintah melakukan ini adalah untuk mendorong penempatan TKI sektor formal dan menggeser pekerjaan pada sektor domestik seperti pembantu rumah tangga (PRT).
"Pelan-pelan akan kita kurangi hingga titik nol pada sektor-sektor domestik," kata Mennakertrans Muhaimin Iskandar dalam siaran pers, Senin (31/10/2011).
Menurut Muhaimin, peluang kerja TKI formal di Arab Saudi sangat besar sehingga harus dimanfaatkan oleh para TKI yang hendak bekerja di Arab Saudi. Misalnya saja, Supermarket Bin Dawood yang membutuhkan tenaga kerja sebagai sopir, kasir, pramuniaga, dan pekerja gudang. "Ini harus disebarluaskan agar calon TKI mempersiapkan diri dan melengkapi dokumen yang dibutuhkan," lanjut Muhaimin.
Nantinya, dalam penempatan TKI formal, akan ada prosedur-prosedur yang harus disepakati bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi, serta perusahaan swasta. Ke depannya, Kemennakertrans akan melibatkan pemerintah daerah dalam perekrutan TKI.
Jadi, sebelum perusahaan-perusahaan jasa TKI merekrut, dinas-dinas di pemerintah daerah akan bersikap proaktif agar tidak ada lagi perekrutan secara langsung di daerah-daerah yang bermasalah. "Kita akan tindak tegas PPTKIS yang menggunakan cara rekrut massal yang cenderung tidak siap pakai," tambahnya.
Sebelumnya, dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi, Muhaimin mengadakan pertemuan dengan Abdul Razzaq D Bin Dawood, pemilik perusahaan Bin Dawood Group yang bergerak di bidang jaringan supermarket, hotel, pabrik, properti, dan sebagainya. Selain itu, Muhaimin juga bertemu dengan pengusaha-pengusaha Arab Saudi untuk melakukan lobi agar TKI formal bisa bekerja di perusahaan-perusahaan di Arab Saudi. (Riendy Astria/Kontan)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/11/01/01393578/Kemennakertrans.Buka.7.000.Lowongan.TKI.di.Arab
Adapun lowongan kerja yang tersedia antara lain sopir, tenaga pemasaran dan pramuniaga, kasir, pekerja pabrik, pekerja pertanian, pekerja perkebunan, petugas kebersihan, dan perawat. Alasan pemerintah melakukan ini adalah untuk mendorong penempatan TKI sektor formal dan menggeser pekerjaan pada sektor domestik seperti pembantu rumah tangga (PRT).
"Pelan-pelan akan kita kurangi hingga titik nol pada sektor-sektor domestik," kata Mennakertrans Muhaimin Iskandar dalam siaran pers, Senin (31/10/2011).
Menurut Muhaimin, peluang kerja TKI formal di Arab Saudi sangat besar sehingga harus dimanfaatkan oleh para TKI yang hendak bekerja di Arab Saudi. Misalnya saja, Supermarket Bin Dawood yang membutuhkan tenaga kerja sebagai sopir, kasir, pramuniaga, dan pekerja gudang. "Ini harus disebarluaskan agar calon TKI mempersiapkan diri dan melengkapi dokumen yang dibutuhkan," lanjut Muhaimin.
Nantinya, dalam penempatan TKI formal, akan ada prosedur-prosedur yang harus disepakati bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi, serta perusahaan swasta. Ke depannya, Kemennakertrans akan melibatkan pemerintah daerah dalam perekrutan TKI.
Jadi, sebelum perusahaan-perusahaan jasa TKI merekrut, dinas-dinas di pemerintah daerah akan bersikap proaktif agar tidak ada lagi perekrutan secara langsung di daerah-daerah yang bermasalah. "Kita akan tindak tegas PPTKIS yang menggunakan cara rekrut massal yang cenderung tidak siap pakai," tambahnya.
Sebelumnya, dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi, Muhaimin mengadakan pertemuan dengan Abdul Razzaq D Bin Dawood, pemilik perusahaan Bin Dawood Group yang bergerak di bidang jaringan supermarket, hotel, pabrik, properti, dan sebagainya. Selain itu, Muhaimin juga bertemu dengan pengusaha-pengusaha Arab Saudi untuk melakukan lobi agar TKI formal bisa bekerja di perusahaan-perusahaan di Arab Saudi. (Riendy Astria/Kontan)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/11/01/01393578/Kemennakertrans.Buka.7.000.Lowongan.TKI.di.Arab
kompas-Holyfield Ingin Hadapi Klitschko
PARIS, KOMPAS.com — Petinju veteran AS, Evander Holyfield, mengaku masih memiliki kemampuan untuk mengalahkan juara dunia tinju kelas berat saat ini, Vitali atau Wladimir Klitschko.
Dalam wawancara dengan media Perancis, L'Equipe, Senin (31/10), Holyfield mengatakan ingin pensiun sebagai juara dunia. Ia mengaku masih mampu mengalahkan petinju asal Ukraina tersebut.
Menurut Holyfield, Klitschko bersaudara saat ini hanya ingin menghadapi lawan-lawan yang tidak berbahaya dan hanya mengejar penghasilan besar. "Mereka hanya inginkan bayaran yang besar. Hal ini akan mereka dapatkan bila menghadapi saya karena sayalah petinju kelas berat terbaik yang masih aktif saat ini. Namun, mereka tidak akan mau mengambil risiko," kata Holyfield.
"Sementara saya ingin mengundurkan diri sebagai juara dunia tinju sejati dari semua badan tinju," kata Holyfield yang telah berusia 49 tahun ini. Sepanjang kariernya, Holyfield pernah menjadi juara dunia tinju kelas penjelajah dan kelas berat versi WBC, IBF, dan WBA
Sementara kedua bersaudara Klitschko, Wladimir (35) saat ini menjadi juara dunia versi IBF, WBO, dan WBA. Kakaknya, Vitali (40), memegang sabuk juara dunia versi WBC.
Holyfiield pernah mengalahkan petinju-petinju besar seperti George Foreman dan Mike Tyson. Tahun ini ia bertarung dua kali. Pertarungannya menghadapi Sherman Williams dianggap no contest setelah alis mata Holyfiield mengalami cedera.
Pada Mei, Holyfield mengalahkan petinju Denmark, Brian Nielsen. Desember nanti ia akan menghadapi petinju Brasil setelah rencana pertarungannya menghadapi petinju Rusia, Alexander Povetkin, dibatalkan.
http://olahraga.kompas.com/read/2011/11/01/13250972/Holyfield.Ingin.Hadapi.Klitschko
Dalam wawancara dengan media Perancis, L'Equipe, Senin (31/10), Holyfield mengatakan ingin pensiun sebagai juara dunia. Ia mengaku masih mampu mengalahkan petinju asal Ukraina tersebut.
Menurut Holyfield, Klitschko bersaudara saat ini hanya ingin menghadapi lawan-lawan yang tidak berbahaya dan hanya mengejar penghasilan besar. "Mereka hanya inginkan bayaran yang besar. Hal ini akan mereka dapatkan bila menghadapi saya karena sayalah petinju kelas berat terbaik yang masih aktif saat ini. Namun, mereka tidak akan mau mengambil risiko," kata Holyfield.
"Sementara saya ingin mengundurkan diri sebagai juara dunia tinju sejati dari semua badan tinju," kata Holyfield yang telah berusia 49 tahun ini. Sepanjang kariernya, Holyfield pernah menjadi juara dunia tinju kelas penjelajah dan kelas berat versi WBC, IBF, dan WBA
Sementara kedua bersaudara Klitschko, Wladimir (35) saat ini menjadi juara dunia versi IBF, WBO, dan WBA. Kakaknya, Vitali (40), memegang sabuk juara dunia versi WBC.
Holyfiield pernah mengalahkan petinju-petinju besar seperti George Foreman dan Mike Tyson. Tahun ini ia bertarung dua kali. Pertarungannya menghadapi Sherman Williams dianggap no contest setelah alis mata Holyfiield mengalami cedera.
Pada Mei, Holyfield mengalahkan petinju Denmark, Brian Nielsen. Desember nanti ia akan menghadapi petinju Brasil setelah rencana pertarungannya menghadapi petinju Rusia, Alexander Povetkin, dibatalkan.
http://olahraga.kompas.com/read/2011/11/01/13250972/Holyfield.Ingin.Hadapi.Klitschko
kompas-Darah Piton Bisa Jadi Obat Jantung
KOMPAS.com — Ular piton birma (Python molurus bivittatus), subspesies dari piton india, punya biologi yang unik. Setelah makan porsi besar, jantung piton tersebut membesar hingga dua kali lipat sehingga bisa memompa nutrisi yang telah dicerna ke seluruh tubuh dengan lebih efisien. Hebatnya, tak ada efek samping dari proses itu.
Jantung manusia, seperti jantung piton, juga bisa membesar, tetapi dengan sebab lain. Ketika manusia sedang berolahraga, hormon insuline-like growth factor 1 (IGF-1) memacu pembesaran jantung untuk mencukupi permintaan oksigen tubuh. Juga tak ada efek samping dari hal ini.
Namun, pembesaran jantung manusia juga bisa bersifat negatif. Serangan jantung dan tekanan darah tinggi bisa mengakibatkan pembengkakan jantung. Pembengkakan bisa mengakibatkan luka pada jantung dan mengurangi efisiensi penyerapan nutrisi oleh sel jantung.
Untuk manusia normal, olahraga menjadi cara pencegahan jantung dengan memungkinkan pembesaran jantung secara sehat. Namun, untuk yang sudah telanjur menderita, olahraga kadang tidak memungkinkan. Karenanya, pakar berpendapat, perlu obat yang memberi efek sama seperti olahraga.
Leslie Leinwand dari University of Colorado meneliti komponen darah ular piton burma untuk menyelidiki faktor yang bisa memacu pembesaran jantung pada jenis itu. Ia kemudian menduga bahwa penyebabnya adalah asam lemak yang ada pada darah ular itu.
Ia bereksperimen dengan sel-sel jantung tikus. Setelah menumbuhkan sel jantung tikus, ia menambahkan plasma darah piton burma. Hasilnya, ukuran sel membesar, mampu memproduksi IGF-1 mencerna lemak lebih cepat. Sel juga memproduksi lebih sedikit NFAT, protein yang diproduksi saat jantung memiliki banyak beban.
Ia lalu mencoba khasiat plasma darah piton ke tikus secara langsung. Sejumlah tikus dicekoki dengan plasma itu dan diobservasi setelah satu minggu. Hasilnya, jantung membesar dan tak ada luka, tanda bahwa plasma itu punya efek bagus.
Dari hasil penelitian, Leinwand menyimpulkan bahwa plasma piton mungkin bisa menjadi solusi bagi penderita penyakit jantung. Saat ini, Leinwand tengah mengujicobakan asam lemak dari plasma darah piton pada tikus yang menderita penyakit jantung untuk melihat apakah kondisi jantung bisa diperbaiki dengan asam lemak itu. Hasil penelitian Leinwand dipublikasikan di jurnal Science, Jumat (28/10/2011).
http://sains.kompas.com/read/2011/10/31/13412649/Darah.Piton.Bisa.Jadi.Obat.Jantung
Jantung manusia, seperti jantung piton, juga bisa membesar, tetapi dengan sebab lain. Ketika manusia sedang berolahraga, hormon insuline-like growth factor 1 (IGF-1) memacu pembesaran jantung untuk mencukupi permintaan oksigen tubuh. Juga tak ada efek samping dari hal ini.
Namun, pembesaran jantung manusia juga bisa bersifat negatif. Serangan jantung dan tekanan darah tinggi bisa mengakibatkan pembengkakan jantung. Pembengkakan bisa mengakibatkan luka pada jantung dan mengurangi efisiensi penyerapan nutrisi oleh sel jantung.
Untuk manusia normal, olahraga menjadi cara pencegahan jantung dengan memungkinkan pembesaran jantung secara sehat. Namun, untuk yang sudah telanjur menderita, olahraga kadang tidak memungkinkan. Karenanya, pakar berpendapat, perlu obat yang memberi efek sama seperti olahraga.
Leslie Leinwand dari University of Colorado meneliti komponen darah ular piton burma untuk menyelidiki faktor yang bisa memacu pembesaran jantung pada jenis itu. Ia kemudian menduga bahwa penyebabnya adalah asam lemak yang ada pada darah ular itu.
Ia bereksperimen dengan sel-sel jantung tikus. Setelah menumbuhkan sel jantung tikus, ia menambahkan plasma darah piton burma. Hasilnya, ukuran sel membesar, mampu memproduksi IGF-1 mencerna lemak lebih cepat. Sel juga memproduksi lebih sedikit NFAT, protein yang diproduksi saat jantung memiliki banyak beban.
Ia lalu mencoba khasiat plasma darah piton ke tikus secara langsung. Sejumlah tikus dicekoki dengan plasma itu dan diobservasi setelah satu minggu. Hasilnya, jantung membesar dan tak ada luka, tanda bahwa plasma itu punya efek bagus.
Dari hasil penelitian, Leinwand menyimpulkan bahwa plasma piton mungkin bisa menjadi solusi bagi penderita penyakit jantung. Saat ini, Leinwand tengah mengujicobakan asam lemak dari plasma darah piton pada tikus yang menderita penyakit jantung untuk melihat apakah kondisi jantung bisa diperbaiki dengan asam lemak itu. Hasil penelitian Leinwand dipublikasikan di jurnal Science, Jumat (28/10/2011).
http://sains.kompas.com/read/2011/10/31/13412649/Darah.Piton.Bisa.Jadi.Obat.Jantung
kompas-Serbia Temukan Dua Lukisan Picasso yang Dicuri
BEOGRAD, KOMPAS.com — Polisi di Serbia telah menemukan dua lukisan Pablo Picasso yang dicuri pada 2008 dari satu galeri di Swiss, kata menteri dalam negeri di Beograd, Rabu.
Menteri Dalam Negeri Ivica Dacic mengatakan kepada wartawan sebagaimana dilaporkan Reuters, lukisan itu, Tjte de Cheval (Kepala Kuda) dan Verre et Pichet (Gelas dan Pitcher), ditemukan di Beograd.
"Lukisan tersebut ditemukan melalui kerja sama erat dengan polisi dari Swiss," kata Dacic sebagaimana dikutip media Serbia.
Lukisan itu, yang bernilai jutaan dollar AS, dicuri dari satu galeri di kota kecil Pfaeffikon, dekat Zurich, Swiss.
Kementerian Dalam Negeri Serbia menyatakan tak ada orang yang ditangkap dan tak bersedia menjelaskan di mana kedua lukisan itu ditemukan.
"Kami sekarang berusaha memastikan siapa yang membawa lukisan tersebut ke dalam wilayah Serbia, kapan, bagaimana, dan di mana keduanya disembunyikan," kata Direktur Polisi Serbia, Milorad Veljovic, kepada Reuters.
http://oase.kompas.com/read/2011/10/27/2233126/Serbia.Temukan.Dua.Lukisan.Picasso.yang.Dicuri
Menteri Dalam Negeri Ivica Dacic mengatakan kepada wartawan sebagaimana dilaporkan Reuters, lukisan itu, Tjte de Cheval (Kepala Kuda) dan Verre et Pichet (Gelas dan Pitcher), ditemukan di Beograd.
"Lukisan tersebut ditemukan melalui kerja sama erat dengan polisi dari Swiss," kata Dacic sebagaimana dikutip media Serbia.
Lukisan itu, yang bernilai jutaan dollar AS, dicuri dari satu galeri di kota kecil Pfaeffikon, dekat Zurich, Swiss.
Kementerian Dalam Negeri Serbia menyatakan tak ada orang yang ditangkap dan tak bersedia menjelaskan di mana kedua lukisan itu ditemukan.
"Kami sekarang berusaha memastikan siapa yang membawa lukisan tersebut ke dalam wilayah Serbia, kapan, bagaimana, dan di mana keduanya disembunyikan," kata Direktur Polisi Serbia, Milorad Veljovic, kepada Reuters.
http://oase.kompas.com/read/2011/10/27/2233126/Serbia.Temukan.Dua.Lukisan.Picasso.yang.Dicuri
kompas-Para Elite Pun Masih "Menginggriskan" Bahasa Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com — Penggunaan bahasa Indonesia semakin meluntur. Kebanggaan para elite dan pejabat menggunakan bahasa Indonesia pun dinilai semakin meluntur. Kepala Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Agus Dharma mengatakan, para elite, baik di level eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, cenderung tak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
"Dari perkataan-perkataan mereka, ada kecenderungan tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia," kata Agus.
Agus menilai, para elite yang seharusnya memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini justru lebih banyak menyelipkan bahasa asing, terutama Inggris, dalam kata-kata yang diucapkan. Agus mengatakan, hal ini menunjukkan adanya kemunduran besar dalam penggunaan bahasa Indonesia.
"Perhatikan contoh para elite kita yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Sudah diajarkan dengan baik, masih diulangi dengan bahasa Inggris. Malu kita" ujarnya.
Ia menjelaskan, padahal pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara Lainnya mengharuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam atau di luar negeri. Nantinya akan keluar Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. PP itu akan melahirkan perpres, dan kemudian peraturan menteri (permen) tentang pedoman penggunaan bahasa Indonesia.
"Para elite harus menggunakan bahasa Indonesia, kecuali ketika di luar negeri dan tempatnya mewajibkan bahasa lain," kata Agus.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/30/16080625/Para.Elite.Pun.Masih.Menginggriskan.Bahasa.Indonesia
"Dari perkataan-perkataan mereka, ada kecenderungan tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia," kata Agus.
Agus menilai, para elite yang seharusnya memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini justru lebih banyak menyelipkan bahasa asing, terutama Inggris, dalam kata-kata yang diucapkan. Agus mengatakan, hal ini menunjukkan adanya kemunduran besar dalam penggunaan bahasa Indonesia.
"Perhatikan contoh para elite kita yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Sudah diajarkan dengan baik, masih diulangi dengan bahasa Inggris. Malu kita" ujarnya.
Ia menjelaskan, padahal pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara Lainnya mengharuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam atau di luar negeri. Nantinya akan keluar Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. PP itu akan melahirkan perpres, dan kemudian peraturan menteri (permen) tentang pedoman penggunaan bahasa Indonesia.
"Para elite harus menggunakan bahasa Indonesia, kecuali ketika di luar negeri dan tempatnya mewajibkan bahasa lain," kata Agus.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/30/16080625/Para.Elite.Pun.Masih.Menginggriskan.Bahasa.Indonesia
Selasa, 24 Mei 2011
kompas : Ulat Bulu Raksasa Serang Gunung Kidul
GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com — Ribuan ulat bulu berukuran jari tangan orang dewasa dan berwarna hitam kecoklatan menyerang sedikitnya 2 hektar tanaman jambu monyet di Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu.
Pantauan di lokasi, ribuan ulat bulu memakan dedaunan pohon jambu hingga habis. Banyak pohon jambu yang sudah tidak berdaun ludes dimakan ulat bulu.
Sastro (50), petani setempat, mengatakan, sudah sepekan ribuan ulat bulu itu menyerang tanaman jambu monyet dan tanaman lain di sekitarnya.
"Ulat bulu itu berukuran lebih besar dari ulat bulu yang biasanya menyerang tanaman jambu monyet ini," kata Sastro, Senin (23/05/2011).
Sastro dan petani lain hanya bisa pasrah menyaksikan tanaman mereka digerogoti ulat yang mampu berkembang biak secara cepat tersebut. Bahkan, serangga gatal itu dengan leluasa berkembang biak dengan cepat.
"Kami bingung mau membasmi pakai apa kalau segini banyaknya sebab kalaupun dibakar, kami khawatir bulunya membuat kami gatal-gatal," ujarnya.
Sastro dan sejumlah petani lain berharap dinas terkait, baik Dinas Pertanian maupun Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunung Kidul, segera mengambil tindakan guna memusnahkan ulat bulu tersebut.
http://regional.kompas.com/read/2011/05/23/20393847/Ulat.Bulu.Raksasa.Serang.Gunung.Kidul
Pantauan di lokasi, ribuan ulat bulu memakan dedaunan pohon jambu hingga habis. Banyak pohon jambu yang sudah tidak berdaun ludes dimakan ulat bulu.
Sastro (50), petani setempat, mengatakan, sudah sepekan ribuan ulat bulu itu menyerang tanaman jambu monyet dan tanaman lain di sekitarnya.
"Ulat bulu itu berukuran lebih besar dari ulat bulu yang biasanya menyerang tanaman jambu monyet ini," kata Sastro, Senin (23/05/2011).
Sastro dan petani lain hanya bisa pasrah menyaksikan tanaman mereka digerogoti ulat yang mampu berkembang biak secara cepat tersebut. Bahkan, serangga gatal itu dengan leluasa berkembang biak dengan cepat.
"Kami bingung mau membasmi pakai apa kalau segini banyaknya sebab kalaupun dibakar, kami khawatir bulunya membuat kami gatal-gatal," ujarnya.
Sastro dan sejumlah petani lain berharap dinas terkait, baik Dinas Pertanian maupun Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunung Kidul, segera mengambil tindakan guna memusnahkan ulat bulu tersebut.
http://regional.kompas.com/read/2011/05/23/20393847/Ulat.Bulu.Raksasa.Serang.Gunung.Kidul
kompas : Listrik dari Gelombang Laut Menjanjikan
KOMPAS.com - Gelombang laut dan bandul lonceng menjadi inspirasi Zamrisyaf. Periset pada Divisi Penelitian dan Pengembangan PT PLN (Persero) ini merancang pembangkit listrik dengan energi gelombang laut yang menggerakkan bandul kemudian diubah menjadi energi penggerak roda gila dan turbin listrik.
"Teknologi ini sudah mendapatkan hak paten dan siap dikomersialkan," kata Zamrisyaf, Kamis (19/5/2011) di Jakarta. Zamrisyaf mendaftarkan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut-sistem bandulan (PLTGL-SB) untuk mendapatkan paten sejak tahun 2002.
Awalnya Zamrisyaf menekuni bidang pembangkit listrik mikrohidro. Kemudian, suatu perjalanan dengan kapal mendatangkan inspirasi baginya untuk merancang PLTGL-SB. Pada perjalanan itu, kapal diterpa badai dengan gelombang laut tinggi. Kapal berayun-ayun. Lonceng kapal pun berdentang. Zamrisyaf menyimak rumah lonceng beradu dengan bandulannya.
"Gelombang laut memiliki energi yang diteruskan bandulan lonceng. Bandulan lonceng menghasilkan energi bunyi, tetapi bandulan pada PLTGL-SB rancangan saya menghasilkan listrik," kata Zamrisyaf. Ia mengutip hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi diubah.
Zamrisyaf mengubah energi gelombang laut menjadi energi listrik melalui perantara energi gerak bandulan yang menjadi penggerak roda gila. Pada akhirnya, roda gila menggerakkan turbin atau dinamo yang berputar dan menghasilkan listrik.
http://sains.kompas.com/read/2011/05/20/14243145/Listrik.dari.Gelombang.Laut.Menjanjikan
"Teknologi ini sudah mendapatkan hak paten dan siap dikomersialkan," kata Zamrisyaf, Kamis (19/5/2011) di Jakarta. Zamrisyaf mendaftarkan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut-sistem bandulan (PLTGL-SB) untuk mendapatkan paten sejak tahun 2002.
Awalnya Zamrisyaf menekuni bidang pembangkit listrik mikrohidro. Kemudian, suatu perjalanan dengan kapal mendatangkan inspirasi baginya untuk merancang PLTGL-SB. Pada perjalanan itu, kapal diterpa badai dengan gelombang laut tinggi. Kapal berayun-ayun. Lonceng kapal pun berdentang. Zamrisyaf menyimak rumah lonceng beradu dengan bandulannya.
"Gelombang laut memiliki energi yang diteruskan bandulan lonceng. Bandulan lonceng menghasilkan energi bunyi, tetapi bandulan pada PLTGL-SB rancangan saya menghasilkan listrik," kata Zamrisyaf. Ia mengutip hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi diubah.
Zamrisyaf mengubah energi gelombang laut menjadi energi listrik melalui perantara energi gerak bandulan yang menjadi penggerak roda gila. Pada akhirnya, roda gila menggerakkan turbin atau dinamo yang berputar dan menghasilkan listrik.
http://sains.kompas.com/read/2011/05/20/14243145/Listrik.dari.Gelombang.Laut.Menjanjikan
Minggu, 15 Mei 2011
kompas - Kamaruddin: Saya Tak Punya Urusan dengan Demokrat
JAKARTA, KOMPAS.com — Kamaruddin Simanjuntak, mantan kuasa hukum salah satu tersangka dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games, Mindo Rosalina Manullang, menolak dituding memiliki kepentingan untuk menghancurkan Partai Demokrat. Menurut Kamaruddin, kasus dugaan suap yang melibatkan Rosa dan belakangan menyeret nama Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin itu bukan persoalan partai.
"Kita kan tidak bicara partai. Kita bicarakan soal Nazaruddin dan kawan-kawan. Saya tidak punya urusan dengan Demokrat. Saya kan sudah bilang ini tindakan Nazaruddin dkk," kata Kamaruddin ketika dihubungi wartawan, Jumat (13/5/2011).
Kamaruddin adalah orang yang memunculkan dugaan keterlibatan Nazaruddin dalam kasus wisma atlet. Belakangan, nama politisi Partai Demokrat lainnya, yakni Angelina Sondakh, juga disebut-sebut terlibat.
Rosa membantah semua pernyataan Kamaruddin. Ia justru menuding balik Kamaruddin. Rosa mengakui, Kamaruddin menjanjikan dirinya bisa bebas jika ia mengikuti arahan Kamaruddin untuk menghancurkan Partai Demokrat. Kamaruddin, kata Rosa, juga meminta uang Rp 5 miliar kepadanya. Mantan Direktur Marketing PT Anak Negeri itu juga mengatakan bahwa semua informasi terkait keterlibatan Nazaruddin hanyalah rekayasa Kamaruddin.
Menanggapi Rosa, Kamaruddin mengatakan, ungkapan Rosa tersebut hanyalah upaya mengalihkan isu untuk lari dari inti persoalan. Ucapan Rosa yang sekarang, katanya, sudah diarahkan pihak tertentu. "Itu kan soal keadaan dan lain sebagainya. Kalian jangan terjebak bahwa ini (bukan) urusan Demokrat. Ini urusan pribadi-pribadi Nazaruddin dan kawan-kawan yang kebetulan berpartai di situ. Ini kan orang ini selalu mengatakan Demokrat seperti ini, kita kan tidak bicara partai. Kita bicara soal Nazaruddin," paparnya.
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/13/13212455/Kamaruddin.Saya.Tak.Punya.Urusan.dengan.Demokrat
"Kita kan tidak bicara partai. Kita bicarakan soal Nazaruddin dan kawan-kawan. Saya tidak punya urusan dengan Demokrat. Saya kan sudah bilang ini tindakan Nazaruddin dkk," kata Kamaruddin ketika dihubungi wartawan, Jumat (13/5/2011).
Kamaruddin adalah orang yang memunculkan dugaan keterlibatan Nazaruddin dalam kasus wisma atlet. Belakangan, nama politisi Partai Demokrat lainnya, yakni Angelina Sondakh, juga disebut-sebut terlibat.
Rosa membantah semua pernyataan Kamaruddin. Ia justru menuding balik Kamaruddin. Rosa mengakui, Kamaruddin menjanjikan dirinya bisa bebas jika ia mengikuti arahan Kamaruddin untuk menghancurkan Partai Demokrat. Kamaruddin, kata Rosa, juga meminta uang Rp 5 miliar kepadanya. Mantan Direktur Marketing PT Anak Negeri itu juga mengatakan bahwa semua informasi terkait keterlibatan Nazaruddin hanyalah rekayasa Kamaruddin.
Menanggapi Rosa, Kamaruddin mengatakan, ungkapan Rosa tersebut hanyalah upaya mengalihkan isu untuk lari dari inti persoalan. Ucapan Rosa yang sekarang, katanya, sudah diarahkan pihak tertentu. "Itu kan soal keadaan dan lain sebagainya. Kalian jangan terjebak bahwa ini (bukan) urusan Demokrat. Ini urusan pribadi-pribadi Nazaruddin dan kawan-kawan yang kebetulan berpartai di situ. Ini kan orang ini selalu mengatakan Demokrat seperti ini, kita kan tidak bicara partai. Kita bicara soal Nazaruddin," paparnya.
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/13/13212455/Kamaruddin.Saya.Tak.Punya.Urusan.dengan.Demokrat
kompas - Duh! Kelas Ambruk Sebelum UN Berlangsung
PAMEKASAN, KOMPAS.com — Hari terakhir pelaksanaan ujian nasional tingkat SD di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, diwarnai dengan robohnya satu ruangan kelas di SDN Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu. Hal itu terjadi Kamis (12/5/2011) sebelum UN dilaksanakan. Kelas yang ditempati 37 murid peserta UN itu harus pindah ke kelas lain.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, separuh gedung kelas VI ambruk. Sementara kelas yang lain kondisinya juga sangat memprihatinkan. Beberapa atap sekolah terpaksa disanggah dengan bambu agar tidak ikut ambruk.
Pelaksanaan UN di sekolah tersebut terpaksa molor satu jam lebih. Pasalnya, murid-murid dan para guru harus bekerja bakti mengeluarkan bangku dan meja yang sudah ditempeli nomor urut ujian, untuk dipindah ke kelas lain. "Kalau kami masih buat nomor urut baru lagi, khawatir pelaksanaan UN semakin terlambat," kata Radjab, Kepala SDN Pademawu Timur 2.
Sekolah tersebut, lanjut Radjab, kondisinya sangat memprihatinkan. Sejak lama sekolah it tak mendapat bantuan dari pemerintah. Kendala yang membuat sekolah itu sulit mendapat bantuan adalah karena lahannya masih dalam sengketa. "Dinas pendidikan tidak mau membangun sekolah ini kalau sengketanya belum selesai," ujarnya.
Untungnya, pada akhir tahun 2009 sengketa lahan bisa diselesaikan sehingga pada tahun ini sudah mendapat bantuan dari dana alokasi khusus tahun 2011. "Meskipun mendapat bantuan, sekolah ini ambruk duluan. Padahal, pelaksanaan pembangunannya masih belum jelas kapan," ungkap Radjab.
Ambruknya salah satu kelas di sekolah tersebut mengundang perhatian aparat pemerintah setempat. Anggota kepolisian dari Polsek Pademawu, Camat Pademawu, dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Pademawu mendatangi lokasi kejadian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
http://regional.kompas.com/read/2011/05/12/1346118/Duh.Kelas.Ambruk.Sebelum.UN.Berlangsung
Berdasarkan pantauan Kompas.com, separuh gedung kelas VI ambruk. Sementara kelas yang lain kondisinya juga sangat memprihatinkan. Beberapa atap sekolah terpaksa disanggah dengan bambu agar tidak ikut ambruk.
Pelaksanaan UN di sekolah tersebut terpaksa molor satu jam lebih. Pasalnya, murid-murid dan para guru harus bekerja bakti mengeluarkan bangku dan meja yang sudah ditempeli nomor urut ujian, untuk dipindah ke kelas lain. "Kalau kami masih buat nomor urut baru lagi, khawatir pelaksanaan UN semakin terlambat," kata Radjab, Kepala SDN Pademawu Timur 2.
Sekolah tersebut, lanjut Radjab, kondisinya sangat memprihatinkan. Sejak lama sekolah it tak mendapat bantuan dari pemerintah. Kendala yang membuat sekolah itu sulit mendapat bantuan adalah karena lahannya masih dalam sengketa. "Dinas pendidikan tidak mau membangun sekolah ini kalau sengketanya belum selesai," ujarnya.
Untungnya, pada akhir tahun 2009 sengketa lahan bisa diselesaikan sehingga pada tahun ini sudah mendapat bantuan dari dana alokasi khusus tahun 2011. "Meskipun mendapat bantuan, sekolah ini ambruk duluan. Padahal, pelaksanaan pembangunannya masih belum jelas kapan," ungkap Radjab.
Ambruknya salah satu kelas di sekolah tersebut mengundang perhatian aparat pemerintah setempat. Anggota kepolisian dari Polsek Pademawu, Camat Pademawu, dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Pademawu mendatangi lokasi kejadian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
http://regional.kompas.com/read/2011/05/12/1346118/Duh.Kelas.Ambruk.Sebelum.UN.Berlangsung
kompas - Kecelakaan Angkutan Berat Vs Motor Tinggi
JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan lalu lintas di Jakarta masih kerap terjadi. Salah satunya adalah kecelakaan antara angkutan berat dengan sepeda motor di jalanan yang banyak dilalui oleh angkutan berat tersebut.
"Kecelakaan antara kontainer atau truk dengan motor merupakan yang tertinggi di wilayah utara. Memang tidak selalu, tapi kalau dirata-rata ya paling tinggi," ungkap Kanit Laka Lantas Polrestro Jakarta utara, AKP Didiek Eko S ketika dihubungi wartawan, Jumat (13/5/2011).
Penyebab terjadinya kecelakaan semacam itu lantaran tidak ada pemisahan antara kendaraan motor dengan truk atau trailer. Hal ini berkaitan dengan karakter Jakarta Utara sebagai kota pelabuhan. Karena itu, sudah sebaiknya pemisahan antara kendaraan berat dengan kendaraan lain dilakukan. Dalam hal ini, tentu saja pengendara motor yang lebih sering menjadi korban.
"Sedikitnya ada dua kecelakaan sehari, namun yang sering berakibat fatal adalah kecelakaan antara motor dengan angkutan berat ini. Saat ini kendaraan berat bercampur dengan pengguna motor dan kendaraan lainnya. Sehingga perlu dipisah untuk menekan angka kecelakaan," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data dari Ditlantas Polda Metro Jaya tahun 2009-2010, jumlah angka berbagai macam kecelakaan, tidak hanya antara angkutan berat dengan motor, naik sebesar 12,4 persen, pada tahun 2009 adalah 7.329 kejadian naik menjadi 8.235 kejadian pada 2010.
Untuk data jumlah korban kecelakaan naik sebesar 7,5 persen dari 9.624 orang tahun 2009 menjadi 10.346 orang tahun 2010. Kemudian jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.048 orang, atau turun 2,1 persen dari tahun 2009 yang mencapai 1.071 orang.
Untuk jumlah korban luka ringan naik 12,8 persen dari 5.165 orang menjadi 5.825 orang. Begitu pula dengan jumlah korban luka berat naik 2,5 persen dari 3.388 orang menjadi 3.473 orang.
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/05/14/14082888/Kecelakaan.Angkutan.Berat.Vs.Motor.Tinggi
"Kecelakaan antara kontainer atau truk dengan motor merupakan yang tertinggi di wilayah utara. Memang tidak selalu, tapi kalau dirata-rata ya paling tinggi," ungkap Kanit Laka Lantas Polrestro Jakarta utara, AKP Didiek Eko S ketika dihubungi wartawan, Jumat (13/5/2011).
Penyebab terjadinya kecelakaan semacam itu lantaran tidak ada pemisahan antara kendaraan motor dengan truk atau trailer. Hal ini berkaitan dengan karakter Jakarta Utara sebagai kota pelabuhan. Karena itu, sudah sebaiknya pemisahan antara kendaraan berat dengan kendaraan lain dilakukan. Dalam hal ini, tentu saja pengendara motor yang lebih sering menjadi korban.
"Sedikitnya ada dua kecelakaan sehari, namun yang sering berakibat fatal adalah kecelakaan antara motor dengan angkutan berat ini. Saat ini kendaraan berat bercampur dengan pengguna motor dan kendaraan lainnya. Sehingga perlu dipisah untuk menekan angka kecelakaan," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data dari Ditlantas Polda Metro Jaya tahun 2009-2010, jumlah angka berbagai macam kecelakaan, tidak hanya antara angkutan berat dengan motor, naik sebesar 12,4 persen, pada tahun 2009 adalah 7.329 kejadian naik menjadi 8.235 kejadian pada 2010.
Untuk data jumlah korban kecelakaan naik sebesar 7,5 persen dari 9.624 orang tahun 2009 menjadi 10.346 orang tahun 2010. Kemudian jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.048 orang, atau turun 2,1 persen dari tahun 2009 yang mencapai 1.071 orang.
Untuk jumlah korban luka ringan naik 12,8 persen dari 5.165 orang menjadi 5.825 orang. Begitu pula dengan jumlah korban luka berat naik 2,5 persen dari 3.388 orang menjadi 3.473 orang.
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/05/14/14082888/Kecelakaan.Angkutan.Berat.Vs.Motor.Tinggi
kompas - RI Bakal Dapat Investasi Rp 169,5 Triliun
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia diperkirakan bakal mendatangkan dana tambahan investasi sekitar Rp 169,5 triliun saat masuk ke dalam era broadband ekonomi.
Hal ini dikemukakan Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Telematika Eddy Satrio, Kamis (12/5/2011) di Hotel Borobudur, Jakarta.
"Masuknya Indonesia ke era broadband ekonomi diperkirakan akan mendatangkan tambahan investasi ke dalam perekonomian nasional sebesar Rp 96 triliun sampai dengan Rp169,5 triliun, tergantung dari mekanisme pembangunan yang dipilih," kata Eddy dalam seminar "Broadband sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Masa Depan".
Bukan itu saja, sumber dana akan disalurkan dari dana APBN sebesar 8 persen dari total investasi. Sementara 92 persen lainnya dari dana swasta atau PPP.
Eddy juga menyinggung mengenai manfaat ekonomi dari broadband dalam tiga golongan ekonomi dari broadband.
Pertama, pemberdayaan ekonomi. Untuk ini, National Broadband Plan menjadi katalisator esensial tercapainya sasaran ekonomi makro seperti yang ditargetkan dalam kerangka ekonomi.
Kedua, potensial tambahan terhadap ekonomi. National Broadband Plan berpotensi mendatangkan investasi tambahan untuk ekonomi nasional.
Dia menjelaskan, hingga 2014, potensinya bisa diperkirakan mencapai Rp 450 triliun dari target PDB nominal Rp 10,854 triliun.
Ketiga, peningkatan digital inclusion dan pengembangan aspek sosial budaya. Broadband akan berperan besar dalam transformasi sosial dan budaya masyarakat.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/13/10525792/RI.Bakal.Dapat.Investasi.Rp.169.5.Triliun
Hal ini dikemukakan Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Telematika Eddy Satrio, Kamis (12/5/2011) di Hotel Borobudur, Jakarta.
"Masuknya Indonesia ke era broadband ekonomi diperkirakan akan mendatangkan tambahan investasi ke dalam perekonomian nasional sebesar Rp 96 triliun sampai dengan Rp169,5 triliun, tergantung dari mekanisme pembangunan yang dipilih," kata Eddy dalam seminar "Broadband sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Masa Depan".
Bukan itu saja, sumber dana akan disalurkan dari dana APBN sebesar 8 persen dari total investasi. Sementara 92 persen lainnya dari dana swasta atau PPP.
Eddy juga menyinggung mengenai manfaat ekonomi dari broadband dalam tiga golongan ekonomi dari broadband.
Pertama, pemberdayaan ekonomi. Untuk ini, National Broadband Plan menjadi katalisator esensial tercapainya sasaran ekonomi makro seperti yang ditargetkan dalam kerangka ekonomi.
Kedua, potensial tambahan terhadap ekonomi. National Broadband Plan berpotensi mendatangkan investasi tambahan untuk ekonomi nasional.
Dia menjelaskan, hingga 2014, potensinya bisa diperkirakan mencapai Rp 450 triliun dari target PDB nominal Rp 10,854 triliun.
Ketiga, peningkatan digital inclusion dan pengembangan aspek sosial budaya. Broadband akan berperan besar dalam transformasi sosial dan budaya masyarakat.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/13/10525792/RI.Bakal.Dapat.Investasi.Rp.169.5.Triliun
kompas - Jangan Biarkan Harimau Hidup Berdesakan
PEKANBARU, KOMPAS.com — Terekamnya 12 individu harimau sumatera di bagian barat blok hutan Bukit Tigapuluh di Kabupaten Indragiri Hulu (Riau) dan Kabupaten Tebo (Jambi) merupakan kabar baik sekaligus peringatan. Alasannya, hutan alam yang tersisa di kawasan koridor satwa Bukit Tigapuluh-Bukit Rimbang Baling itu saat ini terancam pembukaan hutan secara masif.
Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera.
Hal yang mengejutkan adalah bertumpuknya harimau sumatera di satu kawasan hutan yang masih bagus tutupannya, termasuk di kawasan hutan produksi terbatas, hutan lindung, kawasan lindung berdasarkan RTRWP Riau, dan kawasan hutan yang berada di dalam area kerja konsesi hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya (LAJ) yang belum beroperasi. PT LAJ merupakan bagian dari Barito Pacific Group.
"Fenomena bertumpuknya populasi harimau pada satu kawasan hutan yang tutupannya masih bagus, atau dalam istilah ilmiah disebut fenomena crowding, diduga antara lain disebabkan oleh perubahan drastis tutupan hutan di kawasan hutan tersebut. Fenomena crowding tersebut biasanya terjadi dalam ekologi satwa ketika terjadi penyempitan habitat secara cepat," kata Karmila Parakkasi, Koordinator Tim Riset Harimau WWF-Indonesia Program Riau, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/5/2011).
Dari penelitian keberadaan harimau yang dilakukan sejak 2005 hingga sekarang, diketahui bahwa koridor satwa Bukit Tigapuluh-Rimbang Baling ini merupakan habitat penting bagi harimau sumatera yang harus dikelola dengan bijak. Selain habitat harimau sumatera, kawasan lanskap Bukit Tigapuluh juga merupakan rumah bagi gajah dan orangutan sumatera serta masyarakat asli Orang Rimba dan Talang Mamak. Kondisi saat ini, kawasan tersebut mengalami degradasi karena pembukaan hutan alam dalam skala besar oleh perusahaan dan perambahan yang dilakukan oleh masyarakat untuk kebun sawit.
Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera. Detail pantauan mengenai penebangan tersebut dimuat dalam laporan koalisi LSM lingkungan di Riau dan Jambi pada Desember 2010. Perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat juga menambah tekanan bagi hutan alam di lanskap tersebut.
"WWF mendesak pemegang konsesi di koridor satwa tersebut untuk benar-benar melakukan perlindungan daerah bernilai konservasi guna menghindari terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar," kata Anwar Purwoto, Direktur Program Hutan, Spesies, dan Air Tawar WWF-Indonesia. "WWF juga meminta pemerintah di daerah maupun pusat melihat pentingnya kawasan koridor tersebut untuk kemudian menyesuaikan pengelolaannya sesuai dengan komitmen pemerintah dalam melindungi keberadaan satwa liar yang terancam punah."
http://sains.kompas.com/read/2011/05/10/19284827/Jangan.Biarkan.Harimau.Hidup.Berdesakan
Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera.
Hal yang mengejutkan adalah bertumpuknya harimau sumatera di satu kawasan hutan yang masih bagus tutupannya, termasuk di kawasan hutan produksi terbatas, hutan lindung, kawasan lindung berdasarkan RTRWP Riau, dan kawasan hutan yang berada di dalam area kerja konsesi hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya (LAJ) yang belum beroperasi. PT LAJ merupakan bagian dari Barito Pacific Group.
"Fenomena bertumpuknya populasi harimau pada satu kawasan hutan yang tutupannya masih bagus, atau dalam istilah ilmiah disebut fenomena crowding, diduga antara lain disebabkan oleh perubahan drastis tutupan hutan di kawasan hutan tersebut. Fenomena crowding tersebut biasanya terjadi dalam ekologi satwa ketika terjadi penyempitan habitat secara cepat," kata Karmila Parakkasi, Koordinator Tim Riset Harimau WWF-Indonesia Program Riau, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/5/2011).
Dari penelitian keberadaan harimau yang dilakukan sejak 2005 hingga sekarang, diketahui bahwa koridor satwa Bukit Tigapuluh-Rimbang Baling ini merupakan habitat penting bagi harimau sumatera yang harus dikelola dengan bijak. Selain habitat harimau sumatera, kawasan lanskap Bukit Tigapuluh juga merupakan rumah bagi gajah dan orangutan sumatera serta masyarakat asli Orang Rimba dan Talang Mamak. Kondisi saat ini, kawasan tersebut mengalami degradasi karena pembukaan hutan alam dalam skala besar oleh perusahaan dan perambahan yang dilakukan oleh masyarakat untuk kebun sawit.
Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera. Detail pantauan mengenai penebangan tersebut dimuat dalam laporan koalisi LSM lingkungan di Riau dan Jambi pada Desember 2010. Perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat juga menambah tekanan bagi hutan alam di lanskap tersebut.
"WWF mendesak pemegang konsesi di koridor satwa tersebut untuk benar-benar melakukan perlindungan daerah bernilai konservasi guna menghindari terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar," kata Anwar Purwoto, Direktur Program Hutan, Spesies, dan Air Tawar WWF-Indonesia. "WWF juga meminta pemerintah di daerah maupun pusat melihat pentingnya kawasan koridor tersebut untuk kemudian menyesuaikan pengelolaannya sesuai dengan komitmen pemerintah dalam melindungi keberadaan satwa liar yang terancam punah."
http://sains.kompas.com/read/2011/05/10/19284827/Jangan.Biarkan.Harimau.Hidup.Berdesakan
kompas - Nonton Orang Jepang Main Angklung
JAKARTA, KOMPAS.com--Irama musik perpaduan angklung dan arumba begitu ritmis membahana dari Laboratorium Tari dan Musik Karawitan, Balekambang-Condet, Jakarta Selatan. Berbagai jenis lagu, mulai lagu daerah hingga pop Indonesia mengalun merdu dengan komposisi yang pas.
Hanya sang konduktor dan penabuh gendang yang terlihat berwajah Indonesia. Selebihnya adalah sembilan orang wanita yang terlihat begitu terampil memainkan melodi, ritem hingga bas arumba dan angklung. Mereka adalah grup Melodi Manis, sekelompok warga Jepang yang menjadi binaan Budi Abdurrahman (50) beserta rekannya Ario.
Fakta ini unik sekaligus aneh. Di saat jejak kesenian Betawi maupun tradisi Nusantara lainnya mulai meredup dari perhatian generasi muda Jakarta, Budi Abdurrahman masih mampu membentuk empat kelompok pemusik arumba dan angklung.
Saat teater Topeng dan Lenong miskin peminat, ada orang seperti Naoko Yamaji yang datang ribuan mil dari Nagasaki, Jepang, menuju Jakarta khusus untuk mempelajari arumba dan angklung.
Unik karena Naoko benar-benar seorang berbasis musik. Sejak kecil ia telah belajar piano. Dengan predikat sebagai sarjana musik, Naoko bisa dipastikan telah mengenal ragam alat musik dari berbagai belahan dunia. Namun, ia justru memilih mempelajari arumba dan angklung. Ia meninggalkan profesinya sebagai guru piano, melepaskan alat musik yang dipelajari sejak kecil untuk menekuni cara memainkan melodi dan bas alat musik pukul asal Sunda, Arumba. "Menjadi pemain melodi arumba adalah yang paling menarik bagi saya," kata Naoko seusai latihan
Miki Megumi, wanita asal Osaka ini tidak jauh berbeda. Saat kecil ia menggemari piano. Jari-jarinya mulai meninggalkan bilah-bilah tuts piano menjelang dewasa. "Saya sangat tertarik pada angklung, juga arumba," kata ketua kelompok Melodi Manis, sekaligus orang yang cukup lancar berbahasa Indonesia di antara mereka.
Mereka rata-rata telah berada di Indonesia hampir setahun. Anggota terbaru malah sudah tujuh bulan berada di Jakarta. Wanita tersebut berasal dari Fukushima, salah satu kota yang menjadi wilayah terparah akibat gempa Jepang. "Keluarga saya semuanya selamat. Itu yang terpenting bagi saya," katanya. Karena itu, menurutnya, kondisi kotanya saat ini tidak lagi mengganggu konsentrasi latihan.
Budi sendiri sudah melatih warga negara Jepang sejak 1993 . "Sejak itu, mereka (WN Jepang) tak hentinya datang untuk berlatih di sini. Setiap tahun pasti ada beberapa kelompok baru," kata pria asli Sunda yang mengaku belajar alat musik khas daerahnya secara otodidak.
Budi semdiri yang membuat komposisi musiknya, tergantung pada jumlah orang dan pilihan alat musiknya.
"Kalau ini (grup Melodi Manis) perpaduan angklung dan arumba. Ada juga kelompok khusus arumba seperti Pelangi-Pelangi dan Buluh Perindu," katanya.
Ia sendiri menyukai penampilan sebagai suatu orkestra. "Kalau jumlah pemainnya mencapai 30 orang, kita buat orkestra. Jenis alat musik yang dipakai lebih banyak dan suaranya lebih variatif, meski komposisinya lebih rumit," ujar pria yang sudah mendalami alat musik arumba sejak 1982 ini.
Ia sendiri mengaku tidak cemas akan kehilangan peminat dari Jepang. Pasalnya, latihan keseniannya sudah masuk dalam destinasi yang direkomendasikan ke wisatawan asal Jepang di negara asalnya.
Apa yang dialami Budi berbanding terbalik dengan kesenian tradisional betawi di tempat tersebut. Laboratorium Tari dan Musik Karawitan, sesuai namanya, sebenarnya dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI untuk mengembangkan budaya betawi di daerah Balekambang-Condet. Lantaran, Condet dikenal sebagai salah satu kawasan di Jakarta dengan yang memiliki banyak komunitas betawi. Sayangnya, upaya pelestarian itu memudar dan kurang mampu menarik minat generasi baru.
Herry Zulkaman, staf Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan tidak melihat minat kaum muda sebagai alasan. Situasi ini, menurutnya, lebih disebabkan pasang-surut alias tidak menentunya kehidupan sanggar seni dan budaya.
"Rata-rata seniman tradisional murni menggantungkan hidupnya dari penghasilan sanggar mereka. Kalau yang terjadi hanya pengeluaran untuk latihan melulu, sedangkan pementasannya jarang, kebanyakan mereka akan kembang-kempis hidupnya," kata pria asal Aceh yang sangat memperhatikan pengembangan seni tradisional.
Karena alasan itulah, pihaknya, kata Herry, aktif melakukan pembinaan sanggar-sangar seni dan bekerja sama atau memfasilitasi kegiatan pertunjukan bagi mereka.
Jika hal itu tidak dilakukan, maka situasi kontras sebagaimana di Balekambang yang akan terlihat: warga negara asing tampil dengan musik tradisional nusantara. Sementara kita menjadi penonton yang terkagum-kagum dengan penampilan mereka.
http://oase.kompas.com/read/2011/05/11/14565183/Nonton.Orang.Jepang.Main.Angklung
Hanya sang konduktor dan penabuh gendang yang terlihat berwajah Indonesia. Selebihnya adalah sembilan orang wanita yang terlihat begitu terampil memainkan melodi, ritem hingga bas arumba dan angklung. Mereka adalah grup Melodi Manis, sekelompok warga Jepang yang menjadi binaan Budi Abdurrahman (50) beserta rekannya Ario.
Fakta ini unik sekaligus aneh. Di saat jejak kesenian Betawi maupun tradisi Nusantara lainnya mulai meredup dari perhatian generasi muda Jakarta, Budi Abdurrahman masih mampu membentuk empat kelompok pemusik arumba dan angklung.
Saat teater Topeng dan Lenong miskin peminat, ada orang seperti Naoko Yamaji yang datang ribuan mil dari Nagasaki, Jepang, menuju Jakarta khusus untuk mempelajari arumba dan angklung.
Unik karena Naoko benar-benar seorang berbasis musik. Sejak kecil ia telah belajar piano. Dengan predikat sebagai sarjana musik, Naoko bisa dipastikan telah mengenal ragam alat musik dari berbagai belahan dunia. Namun, ia justru memilih mempelajari arumba dan angklung. Ia meninggalkan profesinya sebagai guru piano, melepaskan alat musik yang dipelajari sejak kecil untuk menekuni cara memainkan melodi dan bas alat musik pukul asal Sunda, Arumba. "Menjadi pemain melodi arumba adalah yang paling menarik bagi saya," kata Naoko seusai latihan
Miki Megumi, wanita asal Osaka ini tidak jauh berbeda. Saat kecil ia menggemari piano. Jari-jarinya mulai meninggalkan bilah-bilah tuts piano menjelang dewasa. "Saya sangat tertarik pada angklung, juga arumba," kata ketua kelompok Melodi Manis, sekaligus orang yang cukup lancar berbahasa Indonesia di antara mereka.
Mereka rata-rata telah berada di Indonesia hampir setahun. Anggota terbaru malah sudah tujuh bulan berada di Jakarta. Wanita tersebut berasal dari Fukushima, salah satu kota yang menjadi wilayah terparah akibat gempa Jepang. "Keluarga saya semuanya selamat. Itu yang terpenting bagi saya," katanya. Karena itu, menurutnya, kondisi kotanya saat ini tidak lagi mengganggu konsentrasi latihan.
Budi sendiri sudah melatih warga negara Jepang sejak 1993 . "Sejak itu, mereka (WN Jepang) tak hentinya datang untuk berlatih di sini. Setiap tahun pasti ada beberapa kelompok baru," kata pria asli Sunda yang mengaku belajar alat musik khas daerahnya secara otodidak.
Budi semdiri yang membuat komposisi musiknya, tergantung pada jumlah orang dan pilihan alat musiknya.
"Kalau ini (grup Melodi Manis) perpaduan angklung dan arumba. Ada juga kelompok khusus arumba seperti Pelangi-Pelangi dan Buluh Perindu," katanya.
Ia sendiri menyukai penampilan sebagai suatu orkestra. "Kalau jumlah pemainnya mencapai 30 orang, kita buat orkestra. Jenis alat musik yang dipakai lebih banyak dan suaranya lebih variatif, meski komposisinya lebih rumit," ujar pria yang sudah mendalami alat musik arumba sejak 1982 ini.
Ia sendiri mengaku tidak cemas akan kehilangan peminat dari Jepang. Pasalnya, latihan keseniannya sudah masuk dalam destinasi yang direkomendasikan ke wisatawan asal Jepang di negara asalnya.
Apa yang dialami Budi berbanding terbalik dengan kesenian tradisional betawi di tempat tersebut. Laboratorium Tari dan Musik Karawitan, sesuai namanya, sebenarnya dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI untuk mengembangkan budaya betawi di daerah Balekambang-Condet. Lantaran, Condet dikenal sebagai salah satu kawasan di Jakarta dengan yang memiliki banyak komunitas betawi. Sayangnya, upaya pelestarian itu memudar dan kurang mampu menarik minat generasi baru.
Herry Zulkaman, staf Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan tidak melihat minat kaum muda sebagai alasan. Situasi ini, menurutnya, lebih disebabkan pasang-surut alias tidak menentunya kehidupan sanggar seni dan budaya.
"Rata-rata seniman tradisional murni menggantungkan hidupnya dari penghasilan sanggar mereka. Kalau yang terjadi hanya pengeluaran untuk latihan melulu, sedangkan pementasannya jarang, kebanyakan mereka akan kembang-kempis hidupnya," kata pria asal Aceh yang sangat memperhatikan pengembangan seni tradisional.
Karena alasan itulah, pihaknya, kata Herry, aktif melakukan pembinaan sanggar-sangar seni dan bekerja sama atau memfasilitasi kegiatan pertunjukan bagi mereka.
Jika hal itu tidak dilakukan, maka situasi kontras sebagaimana di Balekambang yang akan terlihat: warga negara asing tampil dengan musik tradisional nusantara. Sementara kita menjadi penonton yang terkagum-kagum dengan penampilan mereka.
http://oase.kompas.com/read/2011/05/11/14565183/Nonton.Orang.Jepang.Main.Angklung
kompas - Rully, Mahasiswa UI Terbaik 2011
DEPOK, KOMPAS.com — Dengan nilai total 99,27, Rully Prasetya dari Fakultas Ekonomi mengalahkan para pesaingnya untuk meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2011. Tiga tahun berturut-turut mahasiswa FEUI ini menggondol predikat tersebut.
Sementara itu, posisi kedua diraih oleh Aditya Rinus P Putra dari Fakultas Teknik dengan nilai 91,8 dan Najmu Laila dari Fakultas Hukum dengan nilai total 89,13. Penghargaan tersebut digelar dalam puncak acara "Malam Apresiasi Prestasi Mahasiswa UI", Jumat (13/5/2011).
Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang III Sunardji SE, MM; Direktur Alumni Drs Arie Setiabudi Soesilo, MSc; serta para manajer mahasiswa dan alumni dari 12 fakultas di UI. Pada acara ini diumumkan berbagai macam prestasi yang diraih oleh mahasiswa-mahasiswi UI, baik di bidang akademis, seni budaya, maupun olahraga.
Kepala Kantor Komunikasi UI Vishnu Juwono mengatakan, para mahasiswa berprestasi tersebut berasal dari 12 fakultas yang diseleksi selama satu minggu. "Mereka telah diuji di antaranya dalam hal penilaian CV, penulisan makalah dan presentasi, kemampuan menjawab pertanyaan dewan juri, serta kemahiran berbahasa Inggris," ujar Vishnu kepada Kompas.com, Jumat malam.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/14/06201695/Rully.Mahasiswa.UI.Terbaik.2011
Sementara itu, posisi kedua diraih oleh Aditya Rinus P Putra dari Fakultas Teknik dengan nilai 91,8 dan Najmu Laila dari Fakultas Hukum dengan nilai total 89,13. Penghargaan tersebut digelar dalam puncak acara "Malam Apresiasi Prestasi Mahasiswa UI", Jumat (13/5/2011).
Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang III Sunardji SE, MM; Direktur Alumni Drs Arie Setiabudi Soesilo, MSc; serta para manajer mahasiswa dan alumni dari 12 fakultas di UI. Pada acara ini diumumkan berbagai macam prestasi yang diraih oleh mahasiswa-mahasiswi UI, baik di bidang akademis, seni budaya, maupun olahraga.
Kepala Kantor Komunikasi UI Vishnu Juwono mengatakan, para mahasiswa berprestasi tersebut berasal dari 12 fakultas yang diseleksi selama satu minggu. "Mereka telah diuji di antaranya dalam hal penilaian CV, penulisan makalah dan presentasi, kemampuan menjawab pertanyaan dewan juri, serta kemahiran berbahasa Inggris," ujar Vishnu kepada Kompas.com, Jumat malam.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/14/06201695/Rully.Mahasiswa.UI.Terbaik.2011
Rabu, 11 Mei 2011
kompas - Aparat Korup Harus Dihukum Lebih Berat
NUSA DUA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Pencegahan M Jasin mengatakan, aparat hukum yang terbukti korupsi harus dijatuhi hukuman lebih berat.
"Untuk penegak hukum, harusnya lebih tinggi hukumannya," kata Jasin kepada pers di sela-sela "Konferensi Internasional Memerangi Suap dalam Transaksi Bisnis Internasional" di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/5/2011).
Selaku penegak hukum, ia pun setuju apabila hukuman bagi para koruptor lebih berat dibanding tindak pidana lain. "Jangan sampai grasi dan remisi justru memperingan hukuman bagi para koruptor ini, terlebih lagi bagi penegak hukum," ujar Jasin.
Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 sebagai amandemen dari UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sudah menyebutkan hukuman maksimal dan minimal bagi koruptor.
"Padahal, di konvensi PBB tidak menyebutkan itu. Dan, jika melihat pada UU Belanda, kita (hukuman di Indonesia) lebih tinggi. Untuk itu, ia mengharapkan agar acuan hukuman bagi koruptor minimal lima tahun, sedangkan hukuman maksimalnya tergantung dengan kasus korupsi.
"Contoh (kasus) Artalita Suryani, minimal lima tahun semestinya. Penegakan hukumnya harus jelas di sini karena kasusnya pun berbeda," ujar Jasin. Pada dasarnya, lanjutnya, tuntutan yang dilakukan jaksa juga harus sesuai atas fakta kejahatan yang terungkap.
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/11/00542334/Aparat.Korup.Harus.Dihukum.Lebih.Berat
"Untuk penegak hukum, harusnya lebih tinggi hukumannya," kata Jasin kepada pers di sela-sela "Konferensi Internasional Memerangi Suap dalam Transaksi Bisnis Internasional" di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/5/2011).
Selaku penegak hukum, ia pun setuju apabila hukuman bagi para koruptor lebih berat dibanding tindak pidana lain. "Jangan sampai grasi dan remisi justru memperingan hukuman bagi para koruptor ini, terlebih lagi bagi penegak hukum," ujar Jasin.
Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 sebagai amandemen dari UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sudah menyebutkan hukuman maksimal dan minimal bagi koruptor.
"Padahal, di konvensi PBB tidak menyebutkan itu. Dan, jika melihat pada UU Belanda, kita (hukuman di Indonesia) lebih tinggi. Untuk itu, ia mengharapkan agar acuan hukuman bagi koruptor minimal lima tahun, sedangkan hukuman maksimalnya tergantung dengan kasus korupsi.
"Contoh (kasus) Artalita Suryani, minimal lima tahun semestinya. Penegakan hukumnya harus jelas di sini karena kasusnya pun berbeda," ujar Jasin. Pada dasarnya, lanjutnya, tuntutan yang dilakukan jaksa juga harus sesuai atas fakta kejahatan yang terungkap.
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/11/00542334/Aparat.Korup.Harus.Dihukum.Lebih.Berat
Minggu, 08 Mei 2011
kompas - Bank Mega Kembali Dibobol Rp 80 Miliar
JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Mega Cabang Jababeka, Bekasi, kembali dibobol Rp 80 miliar setelah sebelumnya dibobol Rp 111 miliar. Modus pembobolan dan sebagian pelakunya pun sama. Dana dipindahkan ke Bank Mega, lalu dipindahkan lagi ke perusahaan sekuritas dan dibagi-bagi kepada para tersangka.
Kasus itu terungkap setelah Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Kejaksaan Agung mengembangkan kasus dana Elnusa yang dibobol lewat Bank Mega Jababeka sebelumnya sebanyak Rp 111 miliar.
Lewat siaran persnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Noor Rachmad menjelaskan, Kejagung telah menahan dua pejabat Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Mereka adalah Kepala Pengelola Keuangan Daerah Yos Rauke dan Bendahara Umum Fadil Kurniawan.
Keduanya diduga mengorupsi kas daerah Batubara sebesar Rp 80 miliar. Noor memaparkan, dari PPATK, pihaknya mendapat informasi tentang pencairan dana kas daerah Batubara yang dilakukan secara ilegal. Dana dipindahkan dari Bank Sumut ke rekening deposito Bank Mega Cabang Jababeka Bekasi sebesar Rp 80 miliar.
Menurut Noor, kedua tersangka ditangkap hari Kamis (5/5/2011) di Sumut, lalu dibawa ke Jakarta. "Keduanya tiba di Jakarta tengah malam dan langsung diperiksa Jumat (6/5/2011) pukul 01.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB," tuturnya, Sabtu (7/5/2011).
Setelah diperiksa, mereka dibawa ke Bank Mega pukul 10.00 WIB, mengecek adanya dana yang dialirkan ke Bank Mega. Seusai diperiksa, mereka dibawa ke penjara. "Yos Rauke ditahan di Rutan (Rumah Tahanan) Salemba Cabang Kejagung, sedangkan Fadil Kurniawan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," ungkap Noor.
Ia mengatakan, pada September 2010 kedua tersangka memindahkan dana kas daerah dari Bank Sumut ke rekening deposito Bank Mega Jababeka. Tanggal 15 September 2010 dialirkan dana sebanyak Rp 20 miliar, tanggal 15 Oktober 2010 dialirkan Rp 10 miliar, tanggal 9 November 2010 dialirkan Rp 5 miliar, tanggal 14 Januari 2011 dialirkan dana Rp 15 miliar, dan terakhir, tanggal 11 April 2011, ditransfer dana Rp 30 miliar. Dana kemudian dicairkan dan disetor ke dua perusahaan sekuritas melalui Bank BCA dan Bank CIMB Niaga.
Kedua tersangka dijerat Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dan jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.
Sumber Polda Metro Jaya menjelaskan, kasus ini terungkap setelah polisi dan jaksa mengembangkan kasus sebelumnya, yakni kasus pembobolan dana Elnusa Rp 111 miliar di Bank Mega. "Kami menduga mantan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka yang sudah ditahan, Itman Harry Basuki, terlibat dalam dua kasus," ungkap sumber tersebut.
Sebelumnya, Bank Mega diduga dibobol direktur keuangannya, Santun Nainggolan, lewat pencairan deposito on call. Dana dialirkan ke perusahaan Sekuritas Discovery. Setelah itu, dana dibagi-bagi kepada para tersangka. Pihak Bank Mega menolak pengembalian dana Elnusa Rp 111 miliar yang dibobol lewat Bank Mega.
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/05/07/15073516/Bank.Mega.Kembali.Dibobol.Rp.80.Miliar
Kasus itu terungkap setelah Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Kejaksaan Agung mengembangkan kasus dana Elnusa yang dibobol lewat Bank Mega Jababeka sebelumnya sebanyak Rp 111 miliar.
Lewat siaran persnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Noor Rachmad menjelaskan, Kejagung telah menahan dua pejabat Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Mereka adalah Kepala Pengelola Keuangan Daerah Yos Rauke dan Bendahara Umum Fadil Kurniawan.
Keduanya diduga mengorupsi kas daerah Batubara sebesar Rp 80 miliar. Noor memaparkan, dari PPATK, pihaknya mendapat informasi tentang pencairan dana kas daerah Batubara yang dilakukan secara ilegal. Dana dipindahkan dari Bank Sumut ke rekening deposito Bank Mega Cabang Jababeka Bekasi sebesar Rp 80 miliar.
Menurut Noor, kedua tersangka ditangkap hari Kamis (5/5/2011) di Sumut, lalu dibawa ke Jakarta. "Keduanya tiba di Jakarta tengah malam dan langsung diperiksa Jumat (6/5/2011) pukul 01.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB," tuturnya, Sabtu (7/5/2011).
Setelah diperiksa, mereka dibawa ke Bank Mega pukul 10.00 WIB, mengecek adanya dana yang dialirkan ke Bank Mega. Seusai diperiksa, mereka dibawa ke penjara. "Yos Rauke ditahan di Rutan (Rumah Tahanan) Salemba Cabang Kejagung, sedangkan Fadil Kurniawan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," ungkap Noor.
Ia mengatakan, pada September 2010 kedua tersangka memindahkan dana kas daerah dari Bank Sumut ke rekening deposito Bank Mega Jababeka. Tanggal 15 September 2010 dialirkan dana sebanyak Rp 20 miliar, tanggal 15 Oktober 2010 dialirkan Rp 10 miliar, tanggal 9 November 2010 dialirkan Rp 5 miliar, tanggal 14 Januari 2011 dialirkan dana Rp 15 miliar, dan terakhir, tanggal 11 April 2011, ditransfer dana Rp 30 miliar. Dana kemudian dicairkan dan disetor ke dua perusahaan sekuritas melalui Bank BCA dan Bank CIMB Niaga.
Kedua tersangka dijerat Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dan jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.
Sumber Polda Metro Jaya menjelaskan, kasus ini terungkap setelah polisi dan jaksa mengembangkan kasus sebelumnya, yakni kasus pembobolan dana Elnusa Rp 111 miliar di Bank Mega. "Kami menduga mantan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka yang sudah ditahan, Itman Harry Basuki, terlibat dalam dua kasus," ungkap sumber tersebut.
Sebelumnya, Bank Mega diduga dibobol direktur keuangannya, Santun Nainggolan, lewat pencairan deposito on call. Dana dialirkan ke perusahaan Sekuritas Discovery. Setelah itu, dana dibagi-bagi kepada para tersangka. Pihak Bank Mega menolak pengembalian dana Elnusa Rp 111 miliar yang dibobol lewat Bank Mega.
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/05/07/15073516/Bank.Mega.Kembali.Dibobol.Rp.80.Miliar
kompas - Terjemahan yang Menyemai Bibit Terorisme
JAKARTA, KOMPAS.com--Kementerian Agama dituding membuat kesalahan terjemahan Al-Quran sehingga dituduh berkontribusi besar dalam menyemai bibit terorisme.
Temuan terakhir menyebutkan masih banyak kesalahan dalam terjemahan versi terbaru, termasuk kesalahan dalam terjemahan versi lama yang masih dicetak oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Menurut Majelis Mujahidin , kesalahan itu sangat fatal dan kontroversial karena terkait masalah akidah, syariah, ekonomi, kesalahan tatabahasa dan lainnya.
Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, menyebutkan kesalahan terjemahan Kementerian Agama dinilai berkontribusi besar dalam menyemai bibit terorisme. Karena itu, Majelis Mujahidin menuntut Kementerian Agama agar menarik terjemahan tersebut dari peredaran, dan menggantikannya dengan terjemahan tafsiriyah seperti yang dilakukan dan akan diterbitkan oleh Majelis Mujahidin.
Sekedar catatan, terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama yang biasa disebut "Al-Qur’an dan Terjemahnya" selesai disusun oleh sebuah tim yang terdiri atas beberapa ulama anggota Lembaga Penterjemah Kitab Suci Al-Qur`an pada tahun 1965 dalam kurun waktu lima tahun (1960-1965), dan dicetak secara bertahap dan beredar pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1965 dalam tiga jilid.
Anggota tim terdiri atas para ulama yang berwenang di bidangnya seperti Prof. M. Hasbi Ash-Shiddiqi, KH. Anwar Musaddad, KH. Ali Maksum, Prof. Bustami Abdulgani, dan lainnya. Sejak pertama kali diedarkan pada 17 Agustus 1965 hingga sekarang, terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama setidaknya sudah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan.
Pertama, penyempurnaan redaksional yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan bahasa pada saat itu, yaitu pada tahun 1989, dengan anggota tim antara lain Prof. Dr. Satria Efendi Zain, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA dan lainnya.
Kedua, penyempurnaan secara menyeluruh yang mencakup aspek bahasa, konsistensi pilihan kata, substansi, dan aspek transliterasi dalam rentang waktu yang cukup lama antara tahun 1998 hingga 2002, dengan ketua tim Dr. Ahsin Sakho Muhammad MA, wakil ketua Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya`qub, MA, dan narasumber Prof. Dr. M. Quraish Shihab.
Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama, ahli dan akademisi yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Sebelumnya, pada 29 April 2011, di anjungan Provinsi Lampung Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, digelar dialog keagamaan tentang terjemahan Al-Qur`an antara Kementerian Agama dan Majelis Mujahidin.
Dari Kementerian Agama hadir unsur pimpinan, peneliti dan staf di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, antara lain Kepala Badan Litbang dan Diklat, Prof. Dr. Abdul Djamil, Kapuslitbang Kehidupan Beragam, Prof. H. Abdurrahman Mas`ud, P.hd, Kapuslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Dr. H. Hamdar Ar-Ra`iyah, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf AL-Qur`an Drs. H. Muhammad Shohib, MA.
Dari Majelis Mujahidin hadir antara lain Ust. Muhammad Thalib (Amir), Irfan S. Awwas (Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin), Ust. Abu Jibril dan lainnya. Selain itu juga hadir tim revisi terjemahan Al-Qur`an tahun 1998-2002, yaitu Dr. Ahsin Sakho Muhammad (Rektor Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta/ Ketua Tim Revisi) dan Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya`qub (Wakil ketua Tim Revisi).
Dialog dilaksanakan sebagai respon Kementerian Agama terhadap beberapa masukan Majelis Mujahidin berupa hasil kajian dan penelitian Amir Majelis Mujahidin terhadap terjemahan Al-Qur`an yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.
Terorisme?
Mengaitkan aksi terorisme dengan terjemahan Al-Quran adalah tidak tepat, karena selain mengingkari karakter terjemahan yang memiliki sejumlah keterbatasan, juga mengabaikan fakta bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi faktor sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.
Pernyataan tersebut dikemukakan Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Dr H Muhlis Hanafi kepada pers di Jakarta, Senin, terkait tudingan bahwa Kementerian Agama membuat kesalahan terjemahan Al-Quran yang berkontribusi besar dalam menyemai bibit terorisme.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Dr. Abdul Djamil, Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya’qub sebagai wakil ketua tim revisi.
Muhlis Hanafi menjelaskan, asumsi terjemahan Al-Quran memicu aksi terorisme adalah tidak tepat. Sebab, selain mengingkari karakter terjemahan yang memiliki keterbatasan yang ada padanya, juga mengabaikan fakta.
Kesalahpahaman terhadap teks-teks keagamaan (Al-Quran dan Hadist) adalah salah satunya. Penyebabnya bukan terjemahannya, tetapi pemahaman terhadap teks-teks keagamaan secara parsial, sempit dan sikap tidak terbuka terhadap berbagai perbedaan pandangan keagamaan, ia menjelaskan.
Ia melanjutkan, bila benar terjemahan sedemikian rupa yang menjadi pemicu aksi kekerasan dan basis ideologi teroris, maka tentu jumlah teroris akan lebih banyak dari yang ada sekarang. Mayoritas penduduk Indonesia akan menjadi teroris, sebab mereka mengandalkan pemahaman Al-Quran dan terjemahan, dan terjemahan Al-Quran dengan pendekatan seperti ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.
Pemerintah Arab Saudi, ia meneruskan, juga bisa dianggap berkontribusi menyemai bibit terorisme. Sebab, setiap tahun mencetak terjemahan tersebut dalam jumlah besar dan sebagian dibagikan kepada sekitar 210.000 haji Indonesia. Padahal lembaga yang mencetaknya (Mujamma’ al-Malik Fahd) dikawal oleh para ulama yang sangat berkompeten dalam masalah Al-Quran.
Faktanya adalah para teroris berjumlah minoritas, bahkan mungkin bisa dihitung jari. Pada umumnya mereka antipemerintah termasuk antiterjemahan Al-Quran yang diterbitkan oleh pemerintah. katanya.
Bahasa Al-Quran dikenal memiliki peringkat atau satera tinggi karena memiliki keunikan tersendiri selain kaya kosa kata. Karena itu tak mungkin dapat menerjemahkannya secara apa adanya, yaitu dengan pengertian "pengalian kalimat/kata dari bahasa pertama kepada kesamaannya dalam bahasa kedua, baik dalam tata bahasanya maupun arti perkata yang lazim disebut terjemah harifiah, atau menurut huruf, kata demi kata.
Terjemahan harfiah tentu akan mengabaikan sekian banyak makna sekunder dalam Al-Quran, baik yang timbul karena karakteristik bahasa Arab yang menggunakan bentuk-bentuk ’majaz, musytarak" dan lainnya, atau yang timbul dari hasil "ijtihad" dan "istinbath" hukum di balik lafal yang zahir.
Tetapi, katanya, tidak berarti Al-Quran tidak dapat diterjemahkan. "Salah jika ada yang beranggapan Al-Quran secara keseluruhan tidak mungkin diterjemahkan karena kemukjizatan yang dimilikinya," katanya.
Para ulama sepakat bahwa terjemahan harfiah hukumnya haram dan tak mungkin untuk dilakukan. Hal ini tak perlu diperdebatkan. Tetapi yang diharamkan adalah untuk keseluruhan Al-Quran, tidak untuk sebagiannya.
Polemik tentang terjemah yang pernah terjadi di abad 20 bukan semata soal harfiah atau tafsiriah, tetapi juga tentang upaya menjadikan terjemahan itu sebagai pengganti Al-Quran. Fakta menunjukkan, terjemahan yang ada selamanya tidak akan pernah menjadi pengganti Al-Quran, ia menjelaskan.
Ia menuturkan bahwa penyusunan Al-Quran dan terjemahannya didasarkan kepada sebuah kesadaran dari para penyusunnya bahwa penerjemahan Al-Quran secara harfiah tak mungkin bisa dilakukan.
Alasannya, bahasa-bahasa di dunia ini terlalu miskin untuk bisa menerjemahkan bahasa Al-Quran. Karena itu, yang dimaksud sebenarnya adalah terjemah makna Al-Quran, bukan terjemah dengan pengertian pengalihbahasaan yang dapat mengganti posisi teks Al-Quran itu sendiri atau menampung semua pesan yang terkandang dalam Al-Quran.
Terjemahan hanyalah salah satu alat bantu untuk memahami Al-Qur’an secara sederhana. Sasarannya tentu para pemula. Sangat naif bila seseorang yang mengerti bahasa Arab mengandalkan terjemahan dalam memahami Al-Qur’an. Untuk bisa memahami Al-Qur’an secara baik tentu harus merujuk kepada buku-buku tafsir Al-Qur’an yang otoritatif.
Dalam hal ini Kementerian Agama telah menerbitkan Al-Qur’an dan Tafsirnya (10 jilid) sebagai usaha memberikan pemahaman kitab suci yang lebih luas dan mendalam kepada masyarakat Indonesia. Kedua karya tersebut saling melengkapi.
Makna yang terdapat pada terjemahan tentu bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud Al-Aqur’an. Itu hanyalah sebuah pilihan, berdasarkan makna lafal yang ditangkap oleh para penyusunnya. Memahami Al-Qur’an hanya melalui terjemahan bukanlah sebuah langkah bijak, sebab terjemahan memiliki banyak keterbatasan.
Apalagi untuk bisa memahami Al-Qur’an diperlukan sejumlah perangkat keilmuan agar bisa memahami rambu-rambu dan kaidah-kaidah penafsiran secara baik.
Oleh karena itu, kurang bijak bila dikatakan terjemahan Kemenag menjadi pemicu berbagai aksi kekerasan, menyemai bibit terorisme dan menjadi sandaran ideologi teroris karena terjemahan yang dilakukan pada sejumlah ayat yang menganjurkan perang dan membunuh.
Pada bagian lain Hanafi menjelaskan, "tantangan" Majelis Mujahidin untuk melakukan debat publik dan uji sahih terjemahan di hadapan publik Kementerian Agama melihat itu bukan solusi yang terbaik. Debat publik dan uji sahih bisa dilakukan antara lain dengan upaya Majelis Mujahidin menerbitkan tarjamah tafsiriyah yang dianggap sebagai solusi permasalahan.
Publik nanti yang akan menilai kedua bentuk terjemahan tersebut. "Kami yakin kedua karya tersebut akan saling melengkapi," ujarnya.
Demikian juga terhadap "ancaman" Majelis Mujahidin untuk membawa perdebatan ini ke ranah hukum bila Kemenag tidak menggubris masukan MMI, pihak Kementerian Agama meminta Majelis Mujahidin untuk mempertimbangkan kembali maslahat dan mudarat yang akan ditimbulkan untuk Islam dan umat Islam bila langkah itu ditempuh. Persoalan ilmiah/ akademis sebaiknya diselesaikan secara akademis.
http://oase.kompas.com/read/2011/05/07/21594243/Terjemahan.yang.Menyemai.Bibit.Terorisme
Temuan terakhir menyebutkan masih banyak kesalahan dalam terjemahan versi terbaru, termasuk kesalahan dalam terjemahan versi lama yang masih dicetak oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Menurut Majelis Mujahidin , kesalahan itu sangat fatal dan kontroversial karena terkait masalah akidah, syariah, ekonomi, kesalahan tatabahasa dan lainnya.
Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, menyebutkan kesalahan terjemahan Kementerian Agama dinilai berkontribusi besar dalam menyemai bibit terorisme. Karena itu, Majelis Mujahidin menuntut Kementerian Agama agar menarik terjemahan tersebut dari peredaran, dan menggantikannya dengan terjemahan tafsiriyah seperti yang dilakukan dan akan diterbitkan oleh Majelis Mujahidin.
Sekedar catatan, terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama yang biasa disebut "Al-Qur’an dan Terjemahnya" selesai disusun oleh sebuah tim yang terdiri atas beberapa ulama anggota Lembaga Penterjemah Kitab Suci Al-Qur`an pada tahun 1965 dalam kurun waktu lima tahun (1960-1965), dan dicetak secara bertahap dan beredar pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1965 dalam tiga jilid.
Anggota tim terdiri atas para ulama yang berwenang di bidangnya seperti Prof. M. Hasbi Ash-Shiddiqi, KH. Anwar Musaddad, KH. Ali Maksum, Prof. Bustami Abdulgani, dan lainnya. Sejak pertama kali diedarkan pada 17 Agustus 1965 hingga sekarang, terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama setidaknya sudah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan.
Pertama, penyempurnaan redaksional yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan bahasa pada saat itu, yaitu pada tahun 1989, dengan anggota tim antara lain Prof. Dr. Satria Efendi Zain, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA dan lainnya.
Kedua, penyempurnaan secara menyeluruh yang mencakup aspek bahasa, konsistensi pilihan kata, substansi, dan aspek transliterasi dalam rentang waktu yang cukup lama antara tahun 1998 hingga 2002, dengan ketua tim Dr. Ahsin Sakho Muhammad MA, wakil ketua Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya`qub, MA, dan narasumber Prof. Dr. M. Quraish Shihab.
Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama, ahli dan akademisi yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Sebelumnya, pada 29 April 2011, di anjungan Provinsi Lampung Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, digelar dialog keagamaan tentang terjemahan Al-Qur`an antara Kementerian Agama dan Majelis Mujahidin.
Dari Kementerian Agama hadir unsur pimpinan, peneliti dan staf di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, antara lain Kepala Badan Litbang dan Diklat, Prof. Dr. Abdul Djamil, Kapuslitbang Kehidupan Beragam, Prof. H. Abdurrahman Mas`ud, P.hd, Kapuslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Dr. H. Hamdar Ar-Ra`iyah, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf AL-Qur`an Drs. H. Muhammad Shohib, MA.
Dari Majelis Mujahidin hadir antara lain Ust. Muhammad Thalib (Amir), Irfan S. Awwas (Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin), Ust. Abu Jibril dan lainnya. Selain itu juga hadir tim revisi terjemahan Al-Qur`an tahun 1998-2002, yaitu Dr. Ahsin Sakho Muhammad (Rektor Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta/ Ketua Tim Revisi) dan Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya`qub (Wakil ketua Tim Revisi).
Dialog dilaksanakan sebagai respon Kementerian Agama terhadap beberapa masukan Majelis Mujahidin berupa hasil kajian dan penelitian Amir Majelis Mujahidin terhadap terjemahan Al-Qur`an yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.
Terorisme?
Mengaitkan aksi terorisme dengan terjemahan Al-Quran adalah tidak tepat, karena selain mengingkari karakter terjemahan yang memiliki sejumlah keterbatasan, juga mengabaikan fakta bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi faktor sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.
Pernyataan tersebut dikemukakan Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Dr H Muhlis Hanafi kepada pers di Jakarta, Senin, terkait tudingan bahwa Kementerian Agama membuat kesalahan terjemahan Al-Quran yang berkontribusi besar dalam menyemai bibit terorisme.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Dr. Abdul Djamil, Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya’qub sebagai wakil ketua tim revisi.
Muhlis Hanafi menjelaskan, asumsi terjemahan Al-Quran memicu aksi terorisme adalah tidak tepat. Sebab, selain mengingkari karakter terjemahan yang memiliki keterbatasan yang ada padanya, juga mengabaikan fakta.
Kesalahpahaman terhadap teks-teks keagamaan (Al-Quran dan Hadist) adalah salah satunya. Penyebabnya bukan terjemahannya, tetapi pemahaman terhadap teks-teks keagamaan secara parsial, sempit dan sikap tidak terbuka terhadap berbagai perbedaan pandangan keagamaan, ia menjelaskan.
Ia melanjutkan, bila benar terjemahan sedemikian rupa yang menjadi pemicu aksi kekerasan dan basis ideologi teroris, maka tentu jumlah teroris akan lebih banyak dari yang ada sekarang. Mayoritas penduduk Indonesia akan menjadi teroris, sebab mereka mengandalkan pemahaman Al-Quran dan terjemahan, dan terjemahan Al-Quran dengan pendekatan seperti ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.
Pemerintah Arab Saudi, ia meneruskan, juga bisa dianggap berkontribusi menyemai bibit terorisme. Sebab, setiap tahun mencetak terjemahan tersebut dalam jumlah besar dan sebagian dibagikan kepada sekitar 210.000 haji Indonesia. Padahal lembaga yang mencetaknya (Mujamma’ al-Malik Fahd) dikawal oleh para ulama yang sangat berkompeten dalam masalah Al-Quran.
Faktanya adalah para teroris berjumlah minoritas, bahkan mungkin bisa dihitung jari. Pada umumnya mereka antipemerintah termasuk antiterjemahan Al-Quran yang diterbitkan oleh pemerintah. katanya.
Bahasa Al-Quran dikenal memiliki peringkat atau satera tinggi karena memiliki keunikan tersendiri selain kaya kosa kata. Karena itu tak mungkin dapat menerjemahkannya secara apa adanya, yaitu dengan pengertian "pengalian kalimat/kata dari bahasa pertama kepada kesamaannya dalam bahasa kedua, baik dalam tata bahasanya maupun arti perkata yang lazim disebut terjemah harifiah, atau menurut huruf, kata demi kata.
Terjemahan harfiah tentu akan mengabaikan sekian banyak makna sekunder dalam Al-Quran, baik yang timbul karena karakteristik bahasa Arab yang menggunakan bentuk-bentuk ’majaz, musytarak" dan lainnya, atau yang timbul dari hasil "ijtihad" dan "istinbath" hukum di balik lafal yang zahir.
Tetapi, katanya, tidak berarti Al-Quran tidak dapat diterjemahkan. "Salah jika ada yang beranggapan Al-Quran secara keseluruhan tidak mungkin diterjemahkan karena kemukjizatan yang dimilikinya," katanya.
Para ulama sepakat bahwa terjemahan harfiah hukumnya haram dan tak mungkin untuk dilakukan. Hal ini tak perlu diperdebatkan. Tetapi yang diharamkan adalah untuk keseluruhan Al-Quran, tidak untuk sebagiannya.
Polemik tentang terjemah yang pernah terjadi di abad 20 bukan semata soal harfiah atau tafsiriah, tetapi juga tentang upaya menjadikan terjemahan itu sebagai pengganti Al-Quran. Fakta menunjukkan, terjemahan yang ada selamanya tidak akan pernah menjadi pengganti Al-Quran, ia menjelaskan.
Ia menuturkan bahwa penyusunan Al-Quran dan terjemahannya didasarkan kepada sebuah kesadaran dari para penyusunnya bahwa penerjemahan Al-Quran secara harfiah tak mungkin bisa dilakukan.
Alasannya, bahasa-bahasa di dunia ini terlalu miskin untuk bisa menerjemahkan bahasa Al-Quran. Karena itu, yang dimaksud sebenarnya adalah terjemah makna Al-Quran, bukan terjemah dengan pengertian pengalihbahasaan yang dapat mengganti posisi teks Al-Quran itu sendiri atau menampung semua pesan yang terkandang dalam Al-Quran.
Terjemahan hanyalah salah satu alat bantu untuk memahami Al-Qur’an secara sederhana. Sasarannya tentu para pemula. Sangat naif bila seseorang yang mengerti bahasa Arab mengandalkan terjemahan dalam memahami Al-Qur’an. Untuk bisa memahami Al-Qur’an secara baik tentu harus merujuk kepada buku-buku tafsir Al-Qur’an yang otoritatif.
Dalam hal ini Kementerian Agama telah menerbitkan Al-Qur’an dan Tafsirnya (10 jilid) sebagai usaha memberikan pemahaman kitab suci yang lebih luas dan mendalam kepada masyarakat Indonesia. Kedua karya tersebut saling melengkapi.
Makna yang terdapat pada terjemahan tentu bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud Al-Aqur’an. Itu hanyalah sebuah pilihan, berdasarkan makna lafal yang ditangkap oleh para penyusunnya. Memahami Al-Qur’an hanya melalui terjemahan bukanlah sebuah langkah bijak, sebab terjemahan memiliki banyak keterbatasan.
Apalagi untuk bisa memahami Al-Qur’an diperlukan sejumlah perangkat keilmuan agar bisa memahami rambu-rambu dan kaidah-kaidah penafsiran secara baik.
Oleh karena itu, kurang bijak bila dikatakan terjemahan Kemenag menjadi pemicu berbagai aksi kekerasan, menyemai bibit terorisme dan menjadi sandaran ideologi teroris karena terjemahan yang dilakukan pada sejumlah ayat yang menganjurkan perang dan membunuh.
Pada bagian lain Hanafi menjelaskan, "tantangan" Majelis Mujahidin untuk melakukan debat publik dan uji sahih terjemahan di hadapan publik Kementerian Agama melihat itu bukan solusi yang terbaik. Debat publik dan uji sahih bisa dilakukan antara lain dengan upaya Majelis Mujahidin menerbitkan tarjamah tafsiriyah yang dianggap sebagai solusi permasalahan.
Publik nanti yang akan menilai kedua bentuk terjemahan tersebut. "Kami yakin kedua karya tersebut akan saling melengkapi," ujarnya.
Demikian juga terhadap "ancaman" Majelis Mujahidin untuk membawa perdebatan ini ke ranah hukum bila Kemenag tidak menggubris masukan MMI, pihak Kementerian Agama meminta Majelis Mujahidin untuk mempertimbangkan kembali maslahat dan mudarat yang akan ditimbulkan untuk Islam dan umat Islam bila langkah itu ditempuh. Persoalan ilmiah/ akademis sebaiknya diselesaikan secara akademis.
http://oase.kompas.com/read/2011/05/07/21594243/Terjemahan.yang.Menyemai.Bibit.Terorisme
kompas - Ijazah "Homeschooling" Kerap Ditolak
TANGERANG, KOMPAS.com — Pendidikan sekolah rumah (homeschooling) yang diakui pemerintah sebagai pendidikan informal masih didiskriminasi. Peserta didik homeschooling di berbagai daerah belum mendapat dukungan kebijakan yang baik dari dinas pendidikan setempat.
Persoalan tersebut dikemukakan para pelaku homeschooling, baik tunggal maupun komunitas, pada acara Simposium Pendidikan Informal: Implementasi Hak Peserta Didik Jalur Informal, Sabtu (7/5/2011) di Kampus Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang Selatan. Acara tersebut dilaksanakan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena).
Dian G, orangtua siswa dari Bekasi, mengatakan bahwa siswa homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan di jenjangnya lebih awal sulit untuk melakukan akselerasi atau percepatan. Padahal, banyak anak homeschooling lain yang mampu menyelesaikan materi belajar di suatu jenjang pendidikan lebih cepat dibandingkan anak-anak sekolah formal.
"Anak tidak bisa ikut ujian nasional pendidikan kesetaraan karena, misalnya, dianggap belum tuntas belajar tiga tahun untuk siswa SMP atau SMA. Dinas Pendidikan tidak mau memahami kondisi anak-anak homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan lebih cepat," ujar Dian.
Persyaratan anak homeschooling yang bisa akselerasi adalah memiliki IQ 130. Padahal, kecepatan belajar dalam kenyataannya tidak bergantung IQ, tetapi pada penguasaan dan penuntasan materi tiap jenjang pendidikan.
Budi Trikorayanto, Sekretaris Asah Pena, mengatakan bahwa pendidikan informal sudah diakui dalam UU Sistem Pendidikan Nasional. Anak-anak homeschooling bisa pindah ke jalur pendidikan nonformal lalu ikut ujian nasional (UN) pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), B (setara SMP), dan C (setara SMA). Mereka pindah ke jalur pendidikan formal dan ikut UN.
"Namun, banyak sekolah formal yang menolak karena tidak paham bahwa ijazah kesetaraan itu diakui secara sah oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Akibatnya, syarat untuk pindah jalur ke sekolah formal jadi sulit," kata Budi.
Dhanang Sasongko, Wakil Ketua Asah Pena, mengatakan bahwa sebenarnya Asah Pena dan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (sekarang diganti Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal) sudah membuat nota kesepahaman soal pengakuan hak-hak dan kewajiban pelaku homeschooling.
"Seharusnya di tingkat daerah mendukung. Pendidikan homeschooling jangan dipersulit dan tidak didukung," kata Dhanang.
Pada pertemuan tersebut, Asah Pena yang memiliki sekitar 3.800 anggota, baik sekolah rumah tunggal maupun komunitas sekolah rumah, membuat pernyataan yang ditujukan kepada pemerintah, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Komisi X DPR RI. Mereka mendesak supaya pendidikan informal tidak lagi didiskriminasi dan dipersulit.
Selain itu, Asah Pena juga meminta pemerintah mendukung pengalokasian dana yang memadai untuk pendidikan nonformal dan informal. Pasalnya, pendidikan di kedua jalur ini pun juga bermanfaat untuk melayani anak-anak putus sekolah atau dari keluarga miskin.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/07/16491541/Ijazah.Homeschooling.Kerap.Ditolak
Banyak sekolah formal yang menolak karena tidak paham bahwa ijazah kesetaraan itu diakui sah oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Akibatnya, syarat untuk pindah jalur ke sekolah formal jadi sulit.
Dian G, orangtua siswa dari Bekasi, mengatakan bahwa siswa homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan di jenjangnya lebih awal sulit untuk melakukan akselerasi atau percepatan. Padahal, banyak anak homeschooling lain yang mampu menyelesaikan materi belajar di suatu jenjang pendidikan lebih cepat dibandingkan anak-anak sekolah formal.
"Anak tidak bisa ikut ujian nasional pendidikan kesetaraan karena, misalnya, dianggap belum tuntas belajar tiga tahun untuk siswa SMP atau SMA. Dinas Pendidikan tidak mau memahami kondisi anak-anak homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan lebih cepat," ujar Dian.
Persyaratan anak homeschooling yang bisa akselerasi adalah memiliki IQ 130. Padahal, kecepatan belajar dalam kenyataannya tidak bergantung IQ, tetapi pada penguasaan dan penuntasan materi tiap jenjang pendidikan.
Budi Trikorayanto, Sekretaris Asah Pena, mengatakan bahwa pendidikan informal sudah diakui dalam UU Sistem Pendidikan Nasional. Anak-anak homeschooling bisa pindah ke jalur pendidikan nonformal lalu ikut ujian nasional (UN) pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), B (setara SMP), dan C (setara SMA). Mereka pindah ke jalur pendidikan formal dan ikut UN.
"Namun, banyak sekolah formal yang menolak karena tidak paham bahwa ijazah kesetaraan itu diakui secara sah oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Akibatnya, syarat untuk pindah jalur ke sekolah formal jadi sulit," kata Budi.
Dhanang Sasongko, Wakil Ketua Asah Pena, mengatakan bahwa sebenarnya Asah Pena dan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (sekarang diganti Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal) sudah membuat nota kesepahaman soal pengakuan hak-hak dan kewajiban pelaku homeschooling.
"Seharusnya di tingkat daerah mendukung. Pendidikan homeschooling jangan dipersulit dan tidak didukung," kata Dhanang.
Pada pertemuan tersebut, Asah Pena yang memiliki sekitar 3.800 anggota, baik sekolah rumah tunggal maupun komunitas sekolah rumah, membuat pernyataan yang ditujukan kepada pemerintah, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Komisi X DPR RI. Mereka mendesak supaya pendidikan informal tidak lagi didiskriminasi dan dipersulit.
Selain itu, Asah Pena juga meminta pemerintah mendukung pengalokasian dana yang memadai untuk pendidikan nonformal dan informal. Pasalnya, pendidikan di kedua jalur ini pun juga bermanfaat untuk melayani anak-anak putus sekolah atau dari keluarga miskin.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/07/16491541/Ijazah.Homeschooling.Kerap.Ditolak
Langganan:
Postingan (Atom)